malaikatpararoh

Peduli Seni Dan Budaya Lewat Tulisan

Menjadi Sutradara Teater

 

 

Ada banyak buku yang mempelajari tentang langka-langkah menjadi sutradara Teater. Seperti buku “Menjadi Sutradara” karya Suyatna Anirun (STSI PRESS 2002, Bandung) dan lainnya. Terlepas dari buku-buku yang beredar. Berdasarkan pengalaman saya menjadi sutradara Teater. Hal ini menarik untuk diwacanakan dan disebarkan.

 

PERTAMA

Memahami naskah (baik naskah realis, surrealis dan absurd). Membedahnya. Menganalisanya; termasuk isi, alur, sejarah zamannya dan latar belakang pengarangnya. Meski kini banyak Naskah teater tidak terlahir dari hasil pengamatan zaman. Namun setidaknya mayoritas naskah teater (baik naskah yang datang dari barat maupun dari dalam negeri) terlahir dari pecahnya konvensi sosiologi di masyarakat dan naskah teater lahir menjadi milik pribadi serta bersifat subjektif dari pikiran si pengarangnya.

Setelah memahami isi keseluruhan naskah berdasarkan analisa/tafsir pribadi. Naskah tersebut bisa dipotong, adaptasi, transformasi atau sadur ulang dengan tidak melenceng pada alur benang merah naskah tersebut. Meski sebagian kritikus teater berkata, bahwa; memotong naskah drama merupakan hal tabu dan fandalisme untuk dilakukan. Tapi jika hal itu membuat lebih baik dan tidak monoton untuk dipentaskan di atas panggung dan melahirkan daya kejut yang nyata untuk para apresiatornya, maka; kenapa tidak hal itu dilakukan dan sah-sah saja. Bukankah sebuah karya sastra (apapun, khususnya naskah drama) itu tidak hidup tetapi ia hidup jika kita membacanya terlebih memainkannya.

 

KEDUA

Memilih penata artistik, musik dan lighting. Setelah terpilih, sang sutradara memberikan waktu pada para asistennya untuk membaca naskah tersebut dan memberikan keleluasaan pada mereka untuk membedahnya berdasarkan analisa masing-masing.

Di pertemuan berikutnya, baru sang sutradara mengeksekusi hasil dari pemikiran para asistennya (artistik, musik dan lighting). Intinya proses kreatif sebuah pertunjukkan teater adalah kerja kolektif. Di sini terjadi perdebatan harga mati, kenapa artistiknya (termasuk kostum, make-up dan handprof) harus seperti ini? Tata musiknya mengapa harus begitu, apakah perlu soundtrack khusus dalam naskah tersebut, sebagai jembatan apresiator untuk memasuki alam pikiran naskah? Tata suasana cahayanya kenapa mesti begini? Visi dan misi bisa sama. Tapi rasa pasti berbeda sebab rasa kerap berkaitan dengan ideologi masing-masing. Disinilah puncak kesepakatan bisa terasa sempurna meski eksekusi terakhir mayoritasnya ada di tangan sutradara namun daya kreatif yang tercipta, hasilnya bukan asal jadi.

 

KETIGA

Setelah ruang tercipta (temporer satu), barulah mengadakan casting untuk mengisi tokoh-tokoh yang ada didalam alur naskah teater tesebut. Casting selesai, barulah sang sutradara membebaskan para aktor untuk menganalisa isi naskah tersebut berdasarkan penafsiran masing-masing. Di pertemuan berikutnya setelah para aktor selesai menganalisa naskah tersebut, para aktor dipertemukan dengan penata artistik, musik dan lighting.

Dalam pertemuan ini, sifatnya harmonisasi tanya jawab tentang hasil penemuan mereka (aktor) atas analisa naskahnya baik itu analisa karakter tokoh, make-up dan kostumnya. Sampai bertanya warna favorit, musik, kesukaan aktor apa, –hal ini penting untuk dilakukan, mengapa? Sebab kenyamanan psikologis aktor akan mendukung pada peran tokoh yang hendak dimainkannya kelak. Juga kendala apa; semisal ada dialog yang tabu/canggung untuk dilontarkan sang aktor; hal ini pun akan menghambat daya imajinatif aktor ketika berperan jika dialog tersebut dipaksakan untuk dikomunikasikan di depan apresiatornya. Apakah kata-kata itu harus diganti dengan tidak merubah pemahamannya atau dibuang begitu saja dengan catatan tidak menganggu benang merah naskah tersebut. Langkah terakhir menyepakati jadwal latihan yang bisa dihadiri oleh semu awak garapan dan penyadaran tentang kerja kolektif.

 

KEEMPAT

Setelah ruang tercipta (temporer dua) dalam menjalankan proses kreatif secara bersama-sama. Membiasakan aktor memakai kostum meski masih dalam tingkatan reading. Namun ruang (temporer dua) sudah tercipta real di atas panggung latihan meski sifatnya fragment dan atau sudah tercipta kuat di dalam imajinasi masing-masing. Dan tidak menutup kemungkinan; terkadang rancang bangun artistik, musik dan lighting bisa berubah dalam perjalanan tersebut. Namun hal ini merupakan bentuk kewajaran, –yang terpenting tidak mengganggu dan keluar dari benang merah alur cerita yang sedang digarap secara kolektif juga psikologi seluruh awak garapan.

Setelah lepas naskah dan pemahaman karakter sudah didapatkan oleh para kator, barulah sutradara memberikan gambaran kasar floor plaint untuk mengisi ruang; artistik, musik dan tata cahaya yang sudah dibangun secara final dan sudah melalui tahap perubahan eksplosari dan eksperimen seluruh para awak garapan. Di sinilah proses pematangan kolektif itu terjadi. Dan naskah teater yang sedang diusung dalam kerja kolektif tersebut sudah berada di ambang pintu pementasan dalam bingkai harmonisasi. Selamat mencoba!

 

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: