malaikatpararoh

Peduli Seni Dan Budaya Lewat Tulisan

Manusia Indonesia Dalam Dimensi Sosiologi Budaya

PENDAHULUAN
Bangsa Indonesia telah  mengalami perubahan yang sangat radikal di
segala lini kehidupan. Baik dalam dimensi politik, sosial, budaya, ekonomi, dan
sebagainya.  Keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara seakan-akan
terputus dengan sejarah masa lalu, dimana nilai-nilai ideologi bangsa,  sosial,
budaya, dan nilai-nilai agama kurang mendapatkan perhatian yang selayaknya,
kebinekaan dalam kesatuan mulai memudar, dan pembangunan spiritual serta
material belum mencapai tujuan yang diinginkan karena berjalan tersendat-sendat.
Meminjam istilah Endang Sumantri, bangsa Indonesia mengalami  masa-masa
discontinue, unlinier, dan unpredictable (www.setneg.go.id).
Kondisi seperti ini memicu masyarakat untuk bertindak anarkis dalam
menampakan antisosial dan antikemapanan, berdemonstrasi dengan cara merusak.
Para pejabat menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi
dengan cara korupsi atau menyelewengkan amanahnya. Tawuran antar pelajar dan
antar mahasiswa, maraknya penggunaan dan peredaran narkoba dan pornografi
yang mengancam masa depan remaja sebagai generasi masa depan bangsa. Para
pengadil yang diadili, aparat keamanan yang diamankan, serta para  politisi dan
elit kekuasaan yang tidak peduli dengan etika berpolitik dan nasib rakyatnya yang
kesusahan.
Di daerah tertentu muncul keinginan untuk melepaskan diri dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena ketidakpuasan terhadap pembagian
“kue” pembangunan dari pusat. Nilai-nilai nasionalisme pun turut melemah,
Pancasila sudah mulai jarang dibicarakan dalam konteks kenegaraan, kebangsaan
dan kemasyarakatan (Asshiddiqie, 2009: 40).  Kondisi tersebut di atas kalau
dicermati karena lemahnya kesadaran berbangsa dan bernegara serta moralitas
bangsa yang buruk.  Lebih khususnya  adalah karena sumber daya manusia
Indonesia yang mengalami penurunan kualitas hidupnya.

KONDISI MANUSIA INDONESIA
Membicarakan manusia Indonesia berarti membicarakan masyarakat
Indonesia. Gambaran  umum masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk
atau pluralistis. Kemajemukan masyarakat dapat dilihat dari segi horizontal
seperti perbedaan etnis, bahasa daerah, agama, dan geografis maupun dari segi
vertikal, seperti perbedaan tingkat pendidikan, ekonomi dan tingkat sosial budaya
(Usman Pelly & Asih Menanti, 1994: 13). Manusia Indonesia yang diinginkan
adalah manusia seutuhnya yaitu manusia yang dididik untuk mencapai keselarasan
dan keseimbangan, baik dalam hidup manusia sebagai  pribadi, makhluk sosial,
dalam hubungan manusia dengan masyarakat, sesama manusia, dengan alam, dan
dengan Tuhannya dalam mengejar kemajuan dan kebahagiaan rohaniah (ibid: 14).
Faktor manusia menjadi ujung tombak mencegah keterpurukan bangsa-
negara. Sumber daya manusia adalah kunci sehingga perlu dipersiapkan secara
terstruktur dan terencana. Repotnya pengembangan kompetensi dan karakter
manusia Indonesia kurang mendapat perhatian serius, tidak hanya tecermin dalam
penganggaran, tetapi juga dalam pengembangan praksis pendidikan.

Banyak dari kalangan ilmuwan dan budayawan Indonesia yang
mengenali sisi-sisi negatif  manusia Indonesia, diantaranya  uraian ”manusia
Indonesia”-nya Mochtar Lubis dan ”mental menerabas”-nya Koentjaraningrat.
Melihat fenomena kehidupan masyarakat Indonesia yang jauh dari cita-
cita pembangunan Indonesia,  Muchtar Lubis secara  lisan  pada  tahun 1977,
menyebut enam ciri manusia Indonesia. Meliputi hipokrit alias munafik (1),
enggan bertanggung jawab atas perbuatan dan keputusannya (2), berjiwa feodal
(3), percaya takhayul (4), artistik (5), dan berwatak lemah (6).
Ketika tahun 1982 Mochtar Lubis diminta merefleksikan kembali
”manusia Indonesia”, dengan tegas ia mengatakan tidak ada perubahan, semakin
parah. Andaikan permintaan itu disampaikan kembali, di saat Mochtar Lubis
sudah tiada (meninggal 2 Juli 2004), niscaya ia menangis di alam baka.
Koentjaraningrat (2004:  37-38) menyatakan, manusia Indonesia
mengidap mentalitas yang lemah, yaitu konsepsi atau pandangan dan sikap mental
terhadap lingkungan yang sudah lama mengendap dalam alam pikiran masyarakat,
karena terpengaruh atau bersumber kepada sistem nilai budaya  (culture value
system)  sejak beberapa generasi yang lalu, dan yang baru timbul sejak zaman
revolusi yang tidak bersumber dari sistem nilai budaya pribumi.  Artinya,
kelemahan mentalitas manusia Indonesia diakibatkan oleh dua hal yaitu karena
sistem nilai budaya negatif yang berasal dari  bangsa sendiri dan dari luar akibat
dari penjajahan bangsa lain. Koentjaraningrat  (2004: 45) memperinci kelemahan
mentalitas manusia Indonesia, diantaranya: (1) sifat mentalitas yang meremehkan
mutu; (2) sifat mentalitas yang suka menerabas; (3) sifat tak percaya kepada diri
sendiri; (4) sifat tak berdisiplin murni; (5) sifat mentalitas yang suka mengabaikan
tanggung jawab yang kokoh.
Mansyur Semma  (2008)  mengutip pendapat Samuel P.  Huntington
tentang kondisi masyarakat yang mempersubur korupsi. Korupsi cenderung
meningkat dalam periode pertumbuhan dan demokratisasi yang cepat karena
perubahan nilai dan sumber-sumber baru kekayaan dan kekuasaan.
Ryan Sugiarto (2009: 11-13) memperinci watak negatif manusia
Indonesia dengan mengemukakan 55 kebiasaan kecil yang menghancurkan
bangsa. Walaupun demikian kita yakin bahwa masih banyak diantara manusia
Indonesia yang memiliki kebiasaan positif atau memiliki karakter yang baik.
Namun, menurut Myrdal kondisi yang demikian sesungguhnya tidak
bisa dikembalikan kepada ciri-ciri jelek yang alamiah yang ada pada bangsa-
bangsa itu, melainkan pada struktur tempat mereka berada. Kelemahan itu bukan
disebabkan oleh  inherent evil character straits of their peoples, melainkan
merupakan hasil dari sejarah yang cukup panjang (Satjipto Rahardjo, 1986: 67).
Koentjaraningrat, mengakui akan pengaruh dekolonisasi dan penjajahan
Belanda telah menjungkir-balikan tatanan dan tata kerja yang mapan untuk
digantikan oleh sesuatu yang belum jelas kaidah dan strukturnya dan sebagai
akibatnya terjadilah kemunduran-kemunduran dalam prestasi orang Indonesia
pasca revolusi, dan hal tersebut yang dapat melemahkan mentalitas bangsa
Indonesia (2004: 44). Muchtar Lubis juga mengiyakan bahwa ciri-ciri manusia
Indonesia yang telah dipaparkan di atas disebabkan oleh struktur yang mencekam,
yaitu karena adanya pemerintahan orde baru yang represif dan otoriter (Lubis,
1992; Ramadhan K.H., 1995).

BISA DIUBAH, DAN HARUS BERUBAH
Manusia Indonesia masa depan perlu dipahami bukan sebagai ”sudah
begitu, mau apalagi”, tetapi bisa diubah,  melalui  strategi kebudayaan, yaitu
dengan melakukan perubahan sistem nilai budaya  (culture value sistem).
Misalnya, membuat perbandingan pengalaman negara lain sebagai bahan belajar
dan perbaikan internal secara radikal. Misalnya, perbandingan yang disampaikan
Huntington dalam artikelnya  Culture Count  di bunga rampai  Culture Matters
(2000: xiii-xvi) yang disuntingnya bersama Lawrence Harrison merangsang kita
untuk memiliki keyakinan.
Huntington menggambarkan Ghana pada tahun 1960-an serba sama
dengan Korea Selatan. Namun, 30 tahun kemudian, Korsel melampaui Ghana
dalam segala hal. Mengapa? Pertanyaan ini dijawab Lawrence Harrison dalam
artikel  Promoting Progressive Culture Change  di buku yang sama. Akar
masalahnya, Korsel menghidupi dan mengembangkan  nilai  budaya progresif
dengan 10  tipologi manusia, di antaranya berorientasi waktu, kerja keras, hemat,
pendidikan, dan menghagai prestasi.
Contoh kedua Jepang, walaupun bencana datang bertubi-tubi dalam
bentuk gempa bumi, tsunami, meledaknya reaktor nuklir, mereka mampu
mensikapi dengan tenang. Dalam kondisi yang kritis masyarakat Jepang tetap
mengedapankan nilai-nilai positif. Dalam acara berita di TV, disampaika

pengalaman warganegara Indonesia yang tinggal di Jepang, mendapatkan
pengalaman menarik ketika gempa datang dan dia sedang berbelanja di mall.
Setelah peristiwa gempa telah usai dari pihak penanggung jawab mall segera
mengembalikan  kartu kredit warganegara Indonesia yang tertinggal.  Hal ini
merupakan refleksi teguhnya integritas dan kejujuran warga Jepang. Gambaran
bahwa di Jepang setiap dompet yang jatuh umumnya akan kembali dalam keadaan
utuh. karakter integritas dan kejujuran ini telah melekat dalam masyarakat Jepang
karena adanya spirit dan ajaran Bushido yang menekankan karakter amanah,
pengasih, santun, sopan, mulia, hormat dan lain-lain (Zaim Uchrowi, 2009: 4).
Jadi, sebenarnya sumber persoalan  buruknya kualitas manusia
Indonesia  adalah  adanya  nilai-nilai  yaitu sistem nilai budaya yang negatif dan
penjajahan yang sangat lama yang dialami bangsa Indonesia–meminjam istilah
dari Koentjaraningrat.  Sistem nilai budaya  itu dihidupi dan dikembangkan oleh
manusia, yang menjadi  subyek atas perilaku dan tindakannya. Sedangkan untuk
membangkitkan mental negara terjajah adalah dengan banyak belajar kepada
negara-negara lain yang telah maju, sehingga termotivasi untuk meningkatkan
kepribadiannya ke arah yang lebih baik.

PENDEKATAN SOSIOLOGI DAN SISTEM NILAI BUDAYA
Dalam makalah ini, untuk menemukan jawaban atas permasalahan yang
dihadapai manusia Indonesia, menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan
sosiologi  khususnya teori sibernatik Talcott Parson  dan sistem nilai budaya
(Culture Value System)  khususnya kerangka mengenai lima dasar nilai budaya
manusia Kluckhohn.
Pertama, pendekatan Sosiologi.  Pada dasarnya sosiologi melihat
manusia dalam serba keterhubungannya dengan manusia atau orang lain. Manusia
adalah manusia dalam masyarakat (Satjipto Rahardjo, 1986: 63). Dengan berdasar
pada paradigma manusia-masyarakat tersebut dapatlah selanjutnya diketahui
aspek-aspek apa saja yang muncul manakala kita membicarakan manusia itu,
yaitu: sistem kepribadian yang menyangkut diri manusia itu sendiri, sistem sosial,
dan sistem kebudayaan (Talcott Parson, 1951: 6). Dengan demikian, dari segi
pemahaman sosiologis, manusia itu senantiasa berada pada posisi didisiplinkan
oleh struktur di luar dirinya, apakah itu berupa sistem sosial ataukah kebudayaan.
Keadaan yang demikian ini tampak dalam tindakannya. Tindakan manusia  ini
tidak pernah bisa dilihat terlepas dari jaringan struktur yang merangkumnya. Oleh
karena itu, dari sudut pemahaman sosiologi sulit untuk melihat tindakan manusia
itu sebagai suatu perbuatan yang spontan, melainkan sebagai hasil perhitungannya
dengan struktur yang merangkumnya, baik berupa perbuatan yang sesuai dengan
struktur maupun yang menentangnya (Satjipto rahadjo, 1986: 64).
Namun, dalam pandangan sosiologi, konsep manusia  dan masyarakat
ada dua aliran yang membahasnya.Pertama, yang diwakili oleh Rousseau, dimana
bangunan pemikiran Rousseau terhadap manusia didirikan pada tatanan dimana
manusia sebagai individu dalam menunjang kemajuan suatu masyarakat.
Rousseau berpendirian bahwa  man’s impules, passions dan reasons    yang
menentukan masyarakatnya (Loekman Soetrisno, 1986: 56).
Sedangkan aliran yang kedua diwakili oleh Louis De  Bonald  dan
Auguste Compte, dimana Bonald sebaliknya berpendapat bahwa bukan individu-
individu yang menunjang kemajuan masyarakat tetapi justru sebaliknya,
masyarakatlah yang menentukan individu-individu yang tinggal dalam masyarakat
itu (ibid).
Bagi Bonald individu secara sendirian adalah “helpnes” dan “Steril”
untuk dapat mengembangkan masyarakatnya. Karena itu individu tidak dapat
menciptakan atau menemukan sesuatu.  Untuk membuktikannya, menurut teori
Bonald manusia sebagai tidak memiliki secara alamiah kata-kata dan  ideas  (T.
Botttomore dan Robert Nisbet dalam  Loekman Soetrisno, 1986: 56). Bonald
berpendapat bahwa hanya dalam masyarakat kita dapati  ideas and symbols, dan
masyarakatlah yang mengkomunikasikan keduanya kepada individu manusia. Ide
dapat timbul dalam makhluk yang berpikir tetapi karena berpikir itu sendiri tidak
dapat timbul tanpa bahasa maka jelaslah, bahwa kita tidak mungkin memperoleh
the thought of language tanpa kita memiliki bahasa itu sendiri.
Satjipto Raharjdo  (1986: 64) memperjelas keterangan tersebut di atas,
bahwa sejak manusia (belajar) menggunakan bahasa sudah tampak fenomena
keterikatannya dalam jaringan struktur yang demikian itu. Berbahasa, atau
berkomunikasi dengan menggunakan bahasa  (bahkan juga dengan menggunakan
isyarat lain) menunjukkan keterikatan manusia belaka. Dalam menggunakan serta
mengucapkan suatu perkataan kita memperhitungkan kemampuan orang lain
untuk menangkap maksud yang kita kirimkan melalui perkataan tersebut. Anak
Indonesia akan berbahasa Indonesia, inilah contoh yang paling mudah tentang
perwujudan paradigma manusia –-dalam masyarakat atau pemahaman sosiologis
tentang manusia itu.
Kemudian Auguste  Compte berpendapat bahwa krisis yang dihadapi
oleh masyarakat Eropa pada waktu  abad pencerahan  disebabkan karena
individualisme yang melanda masyarakat Eropa melalui gerakan reformasi.
Compte melihat bahwa manusia adalah nonrational. Oleh karena itu, menurutnya,
individual liberty  justru akan menimbulkan bahaya bagi keutuhan masyarakat itu
sendiri.  Oleh karena itu dalam masyarakat manusia tak seorangpun dapat
berpendapat lain daripada apa yang telah diputuskan oleh golongan tertinggi
masyarakat yaitu the intellectual-scientific-religious group (Bottomore dan Robert
Nisbet dalam Loekman Soetrisno, 1986: 58). Compte juga berpendapat bahwa
Modernisasi berbahaya bagi budaya dan tertib  sosial, karena spirit modernisasi
menciptakan manusia yang individualistik.
Diantaranya dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
sangat pesat, juga memberikan dampak perubahan kehidupan masyarakat
Indonesia. Penggunaan teknologi modern dalam masyarakat telah menjepit posisi
manusia, sehingga untuk bisa menjelaskan sikap-sikap dan perilakunya, kita
memerlukan pengamatan terhadap pengaruhnya yang bekerja atas diri manusia.
Semenjak revolusi industri membebaskan manusia dari kedudukannya
yang pasif dan ketergantungannya pada alam, maka secara perlahan manusia
masuk ke dalam situasi keterikatan yang lain, bahkan sangat mengekang sifatnya.
Alam mengikat manusia dengan cara memangku dan menghidupinya, sedangkan
teknologi mencekeram manusia dengan memberikan kemudahan-kemudahan,
kenikmatan-kenikmatan tertentu dan secara bersamaan menekan dan merusaknya,
hingga manusia tidak mampu lagi menghindarkan diri dari ketergantungan
terhadapa teknologi modern.
Masyarakat dan pemerintah sudah tidak lagi dilakukan oleh manusia,
melainkan oleh mesin. Manusia menjadi bionik, masyarakat menjadi sosionik dan
pemerintah menjadi  administronik  (Satjipto Rahardjo, 1986: 69). Ruh
kemanusiaan telah hilang dari sisi-sisi kehidupan manusia, yang ada adalah
manusia hidup seperti robot yang diatur oleh teknologi. Pergulatan besar yang
sedang berlangsung sekarang ini pada hakekatnya adalah bagaimana
mengembalikan semuanya kembali ke tangan manusia. Dengan perkataan lain,
bagaimana mesin-mesin itu kembali menjadi hamba dan bukan menjadi tuan
manusia.
Penilaian negatif manusia Indonesia memang tidak bisa dilepaskan dari
perubahan pola kehidupan masyarakat Indonesia yang komunitarian ke arah
individualistik. Hal ini mempengaruhi nilai-nilai kepentingan bersama menjadi
kepentingan pribadi. Munculnya para koruptor yang menilep uang rakyat demi
kemakmuran pribadi, kehidupan  permisif di kalangan pemuda  demi meraih
kenikmatan pribadi, mentalitas menerabas demi mendapatkan keuntungan  pribadi
dan sebagainya telah menghancurkan sendi-sendi kebersamaan.
Nilai-nilai kejujuran, taat pada aturan, menghargai prestasi kerja, dan
sebagainya berawal dari rasa empati kepada kepentingan bersama dan kemajuan
masyarakat sebagai rasa kepemilikan bersama.
Talcott Parson dengan teori  struktural fungsionalismenya, menyusun
ide tentang teori sibernetika mencoba untuk memberikan jawaban, bahwa  sistem
sosial merupakan suatu sinergi antara  tiga  subsistem  sosial—sistem sosial,
personalitas, dan sistem budaya–yang saling mengalami ketergantungan dan
keterkaitan (Peter Beilharz: 2002: 292). Ketiga subsistem (pranata) tersebut akan
bekerja secara mandiri tetapi saling bergantung satu sama lain untuk mewujudkan
keutuhan & kelestarian sistem sosial secara keseluruhan.   Contohnya keterkaitan
antara Hukum,agama, pendidikan, budaya, ekonomi, politik, sosial yang tak dapat
terpisahkan dan saling berinteraksi
Menurut Talcott Parson  (George Ritzer & Douglas J. Goodman, 2004:
121), ada 4 subsistem yang menjalankan fungsi utama dalam kehidupan
masyarakat yang dikenal dengan sistem “tindakan”, yaitu dengan skema AGIL:
1. Fungsi adaptasi  (Adaptation)  dilaksanakan oleh subsistem ekonomi
contoh: melaksanakan produksi & distribusi barang-jasa, dimana jalur produksi
dan distribusi barang –jasa untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteran
masyarakat dengan seadil-adilnya sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung
dalam Pancasila.
2. Fungsi pencapaian tujuan  (Goal attainment)  dilaksanakan oleh subsistem
politik
contoh: melaksanakn distribusi-distribusi kekuasaan & memonopoli unsur
paksaan yg sah (negara).  Dalam pembagian kekuasaan ini harus didasarkan
kepada etika dan moral politik (moral excellen) untuk menghindari kekuasaan
absolut dan tindakan korupsi yang dilakukan elit.
3. Fungsi integrasi (Integration) dilaksanakan oleh subsistem hukum dengan cara
mempertahankan keterpaduan antara komponen yg beda pendapat/  konflik
untuk mendorong terbentuknya solidaritas sosial.
4. Fungsi mempertahankan pola & struktur masyarakat  (Lattent pattern
maintenance)  dilaksanakan oleh subsistem budaya menangani urusan
pemeliharaan nilai  –  nilai & norma-norma budaya yg berlaku dengan tujuan
kelestarian struktur masyarakat dibagi menjadi subsistem keluarga, agama,dan
pendidikan.
Dengan demikian, implikasinya, masyarakat akan berkembang dengan
baik, jika setiap individu taat  kepada norma-norma yang telah disepakati baik
dalam norma negara, masyarakat, dan agama. Untuk mengatasi dampak negatif
globalisasi dan modernisasi  dalam kehidupan masyarakat,  Auguste Compte
berpendapat bahwa  setiap individu membutuhkan agama yang humanis.  Yaitu
agama yang mampu memberikan dan menunjukkan manusia kepada kehidupan
yang manusiawi. Karena agama diturunkan oleh Tuhan untuk kebutuhan hidup
manusia, bukan sebaliknya manusia harus menghamba kepada agama. Komarudin
Hidayat (2008: 10) menyatakan, jika memang agama diwahyukan untuk manusia,
dan bukan manusia untuk agama, maka salah satu ukuran baik-buruknya sikap
hidup beragama adalah dengan menggunakan standar dan kategori kemanusiaan.
Bukannya ideologi dan sentimen kelompok.
Kedua, pendekatan Sistem Nilai Budaya  (Culture Value System).
Pendekatan ini untuk memperbaiki mentalitas manusia Indonesia yang lemah
karena faktor nilai budaya negatif dan inferior complex yang diwariskan penjajah
kepada bangsa Indonesia. Koentjaraningrat (2004: 25) menyatakan, sistem nilai
budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam pikiran sebagian besar
warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai
dalam hidup. Untuk menganalisis sistem nilai budaya Koentjaraningrat (2004: 27)
menggunakan kerangka Kluckhohn, yaitu lima dasar nilai budaya manusia :
1.  Hakekat hidup manusia. Ada kebudayaan yang menganggap
hakekat hidup manusia adalah buruk dan menyedihkan, namun
manusia dapat berusaha untuk mengubah dirinya dari kondisi buruk
ke arah kondisi yang lebih baik dan bahagia.
2.  Karya manusia dalam kebudayaan pada hakekatnya bertujuan untuk
menjaga eksistensi kehidupannya, memberikan status dan
kedudukan yang terhormat dalam masyarakat, dan sebagai usaha
untuk menghasilkan produk yang lebih banyak lagi
3.  Kedudukan manusia dengan ruang waktu  berinteraksi dengan
kehidupan masa lalu sebagai cermin untuk memandang kehidupan
ke masa depan. Sehingga manusia mampu untuk menghargai dan
menggunakan ruang waktunya untuk kemajuan hidupnya.
4.  Hubugan manusia dengan alam sekitarnya, agar terjalin secara
harmonis, maka manusia harus mampu mensikapi alam dengan
bijaksana. Melakukan eksploitasi alam tanpa melupakan upaya-
upaya pemeliharaan dan pelestariannya. Agar alam tidak “marah”
dan dapat berlanjut kepada anak cucu kelak dikemudian hari.
5.  Hubungan manusia dengan sesamanya  dapat tetap terpelihara,
apabila mereka mampu bekerja sama dan saling pengertian. Dengan
cara seperti itulah kehidupan masyarakat dapat terpelihara tertib
sosialnya yang diikat dengan sistem sosial dan sistem budaya.
Selain itu, untuk menjawab persoalan kualitas manusia Indonesia,
Muchtar Lubis juga menyarankan agar melakukan suatu penelitian yang
komprehensif  dan  tidak berhenti pada  6  (enam)  karakter negatif  yang sudah
dipaparkan di atas. Dimana masih banyak budaya kebaikan yang dimiliki bangsa
Indonesia telah menjadi karakter positif dan berjalan di tengah-tengah masyarakat,
misalnya budaya gotong royong, kasih orang tua kepada anak dan sebaliknya, hati
yg damai/  lembut, bersabar, dan cepat belajar.  Walaupun untuk kehidupan
masyarakat di perkotaan sepertinya budaya positif tersebut mulai luntur dan tidak
sedikit yang meninggalkannya. Hal ini menjadi tanggung jawab Pemerintah dan
masyarakat untuk menumbuhkan kembali budaya positif  tersebut. Dan lembaga
pendidikan baik di rumah, sekolah, maupun di masyarakat menjadi sarana yang
paling ideal untuk melaksanakannya.
Sedangkan nilai-nilai negatif yang berasal dari bangsa asing  baik yang
di bawa pada masa penjajahan maupun karena adanya dampak globalisasi, maka
pemerintah harus membuat peraturan yang membatasi efek globalisasi tersebut
walaupun tidak bisa sama sekali menghindarinya dan mengganti budaya-budaya
penjajah dengan budaya  genuine  Indonesia yang positif, serta disusunnya
kurikulum berbasis budaya lokal untuk pendidikan.
Misalnya, untuk merubah  kebiasaan masyarakat yang tidak peduli
terhadap kelestarian lingkungan, maka pemerintah harus membuat undang-undang
yang ketat dengan hukuman tegas bagi yang melanggar. Kemudian
menghilangkan sapaan-sapaan penjajah yang tidak sesuai budaya bangsa dengan
mengimplementasikan karakter positif dari budaya bangsa sendiri dan
membangkitkan kembali tradisi-tradisi besar dan mengembangan kesenian secara
struktural maupun kultural.
Namun, dengan kondisi masyarakat Indonesia sekarang ini, usaha
perbaikan ke arah yang positif pasti akan menemuai berbagai macam hambatan.
Misalnya, jumlah penduduk yang sekarang mencapai lebih dari 200 juta menjadi
kendala tersendiri, jika pemerintah tidak mampu menekan pertumbuhannya.
Dimana dengan besarnya jumlah penduduk dipastikan kebutuhan akan pangan,
sandang, dan papan juga akan semakin meningkat. Hal ini jika tidak diantisipasi
akan menimbulkan kerawanan pangan, persaingan memperoleh pekerjaan
semakin meningkat, lahan pertanian banyak berubah menjadi tempat hunian,
keberadaan hutan semakin menyempit, dan berdampak kepada semakin
meningkanya problem penumpukan sampah, banjir, bencana alam, kemiskinan
dan sebagainya.
Belum lagi masalah karakter negatif bangsa yang sangat sulit dirubah
kalau hanya mengandalkan kesadaran warga negara. Kasus korupsi yang tidak
pernah habis-habisnya, peredaran dan penggunaan narkoba, pornogarafi dan
porno aksi, tawuran, kriminalitas dan sebagainya telah membawa masyarakat ke
jurang dekadensi moral yang lebih parah lagi.

Jika ini benar-benar terjadi, maka kualitas atau mentalitas manusia
Indonesia akan semakin memburuk, dan pada akhirnya bangsa ini akan semakin
berat menanggung beban segala permasalahannya. Dalam kondisi seperti ini,
bangsa  yang bernama Indonesia akan menuju kebangkrutan atau bahkan yang
lebih ekstrim akan menuju kehancurannya ?. Wallahu a’lam bishawab.

PENUTUP
Pengenalan manusia Indonesia dengan menonjolkan sisi-sisi negatifnya
justru  amat relevan, kontributif, dan produktif untuk membangun manusia
Indonesia yang postmo (JB Mangunwijaya), yang well informed  (Soedjatmoko),
yang berpengharapan—dalam sisi spirituil (Mukti Ali),  yang mandiri dan tahu
batas kemampuan diri (Slamet Iman Santoso), yang tidak gagap teknologi (BJ
Habibie).
Kata kunci mengatasi keterpurukan Indonesia adalah  culture matters,
kata Jakob Oetama dalam pidato peluncuran Koentjaraningrat Memorial Lecture
I, 15 Maret 2004. Tipologi manusia budaya statis perlu diubah menjadi tipologi
manusia berbudaya progresif.
Walaupun teori Talcott Parson dan Kluckhohn  mungkin tidak
sepenuhnya dapat menjawab permasalahan karakter dan mentalitas bangsa
Indonesia, namun setidaknya ada jalan keluar yang dapat dijadikan sebagai
landasan. Dan yang paling penting adalah solusi itu sebenarnya dapat digali
melalui kebudayaan lokal yang lebih genuine dan tidak asing bagi pengembangan
manusia Indonesia ke depan ke arah yang lebih baik dan bermartabat sesuai
dengan kepribadian bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Beilharz, Peter.2002. Teori-Teori Sosial, Observasi Kritis Terhadap para Filosof
Terkemuka. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Harrison, Lawrence E. & Samuel P. Huntington (ed.). 2000.  Culture Matters,
How Values Shape Human Progress. New York: Basic Books

Hidayat, Komarudin. 2008.  The Wisdom of Life, Menjawab Kegelisahan Hidup
dan Agama. Jakarta: Kompas

Koentjaraningrat. 2004.  Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta:
Gramedia

Loekman Soetrisno. 1986.  Konsep Manusia dalam Sosiologi dalam Mencari
Konsep Manusia Indonesia Sebuah Bunga Rampai. Jakarta: Erlangga

Lubis, Muchtar. 1992.  Budaya, Masyarakat, Dan Manusia Indonesia. Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia

Pelly, Usman & Asih Menanti. 1994. Teori-Teori Sosial Budaya. Jakarta. Dirjen
Dikti Depdiknas

Parson, Talcott. 1951. The Social System. New York: The Free Press.

Ramadhan K.H. (Penyunting). 1995.  Muchtar Lubis Bicara Lurus, Menjawab
Pertanyaan Wartawan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Ritzer, George & Douglas J. Goodman.2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta:
Kencana

Satjipto Rahardjo. 1986. Gambaran Tentang Manusia dari Sudut Sosiologi dalam
Mencari Konsep Manusia Indonesia Sebuah Bunga Rampai. Jakarta:
Erlangga

Semma, Mansyur. 2008. Negara dan Korupsi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Sugiarto, Ryan. 2009.  55 Kebiasaan Kecil yang Menghancurkan Bangsa.
Yogyakarta: Pinus Book publishing

Uchrowi, Zaim, Harian Republika. “Bushido”, Jum’at, 13 November 2009

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: