malaikatpararoh

Peduli Seni Dan Budaya Lewat Tulisan

Keraton Banjar (Kuin)

Image

ABSTRAK

Sebagai kerajaan yang besar, Kerajaan Banjar tentunya memiliki peninggalan arsitektural. Sangat disayangkan hingga

saat ini tidak ditemukan serta diketahui dimana lokasi Keraton Banjar dan bagaimana bentuk arsitekturalnya.

Sehubungan dengan hal itulah penelitian ini dilaksanakan, dan melalui kolaborasi antara sejarah, arkeologi dan arsitektur, diharapkan dapat menguak tabir yang selama ini belum ada yang mengangkat dan membicarakannya.

Diakibatkan minimnya tinggalan arkeologis, upaya melacak arsitektur Keraton Banjar sangat sulit dilaksanakan. Walaupun demikian, upaya masih dapat dilaksanakan melalui berbagai sumber, yaitu; sumber sejarah Kerajaan Negara Daha, sumber sejarah Kotawaringin, sumber sejarah Kerajaan Banjar, dan sumber dari relief candi masa kerajaan Majapahit. Berdasar pendekatan tersebut diperoleh sketsa (bersifat spekulatif) bentuk arsitektural Kraton Banjar. Kata kunci: kerajaan banjar, keraton banjar, tinggalan arkeologis.

PENDAHULUAN

Kerajaan Banjar adalah kerajaan Islam terbesar di Kalimantan yang dapat mempersatukan beberapa kerajaan kecil di wilayah Kalimantan seperti Kerajaan Paser dan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, Kerajaan Kotawaringin di Kalimantan Tengah, serta Kerajaan Qodriah, Kerajaan Landak, dan Kerajaan Mempawah di Kalimantan Barat. Kerajaan Banjar juga mempunyai sejarah cukup panjang, karena diawali dari masa yang jauh sebelum masuknya pengaruh Islam, yaitu masa yang ditandai dengan berdirinya Candi Laras dan Candi Agung pada masa Hindu-Budha.  Pendiri Kerajaan atau Kasultanan Banjar adalah Pangeran Samudera yang bergelar Sultan Suriansyah, telah melegitimasikan dirinya melalui cerita yang dikenal dengan Hikayat Banjar ataupun Tutur Candi. Cerita ataupun legenda yang ada dalam hikayat tersebut menyiratkan bahwa sumber tertulis tersebut dibuat pada masa setelah Pangeran Samudera naik tahta. Upaya melegitimasi dengan membuat hikayat yang mencakup kurun waktu yang sangat panjang, sangat menarik untuk dikaji karena ada kemiripan dengan Babad Tanah Jawi yang menceritakan misalnya sejarah dari Nabi Adam sampai Kerajaan Majapahit. Babad Tanah Jawi lebih banyak variasi- nya, sekurang-kurangnya ada 13 (tiga belas) yang semuanya mengarah pada upaya melegitimasikan para penguasa di Jawa (Purwadi, 2001). Dalam perjalanannya, Kerajaan Banjar telah mengalami berbagai kesulitan dan ancaman baik dari eksternal maupun internal, terutama masa-masa setelah datangnya bangsa kolonial. Pusat kerajaan atau Keraton Banjar harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tidak kurang dari 5 (lima) kali. Tetapi tak satupun sisa-sisa tinggalan Keraton Banjar tersebut yang dapat diwariskan kepada generasi sekarang. Keraton pertama yang disebutkan berada di wilayah Kuin, dan keraton kedua yang berlokasi di Kayutangi atau Teluk Selong, Martapura, tidak ada seorangpun yang dapat menjelaskannya. Kenyataan yang sekarang dapat ditemui di Kuin saat ini hanyalah lokasi Makam Sultan Suriansyah. sejaman seperti Khatib Dayan, serta makam keluarga Sultan Suriansyah sendiri. Tidak atau belum ditemukan serta diketahuinya dimana lokasi Keraton Banjar dan bagaimana bentuk arsitekturnya hingga saat ini merupakan pertanyaan penelitian atau  research questions yang menarik untuk dicarikan jawabannya. Sehubungan dengan hal itulah penelitian ini dilaksanakan, dengan melakukan kerja kolaboratif antara sejarah, arkeologi dan arsitektur, maka diharapkan dapat menguak tabir yang selama ini belum ada yang mengangkat dan membicarakannya. Kalau dikatakan kegiatan ini merupakan pekerjaan yang bersifat spekulatif, pernyataan tersebut ada benarnya. Akan tetapi kajian ini telah berupaya mempertimbangkan sisi akademis semaksimal mungkin agar dapat diterima oleh berbagai pihak pada masyarakat terutama  Urang Banjar di Kalimantan Selatan.

SEJARAH  KERATON  BANJAR

Berdasarkan pendapat M. Idwar Saleh (1981) menyimpulkan bahwa Kerajaan Banjar didirikan pada tahun 1526 Masehi. Selanjutnya dijelaskan bahwa pusat kerajaan menggunakan rumah Patih Masih yang kemudian dikembangkan dan diperluas menjadi istana yang terdiri dari Pagungan, Sitiluhur, dan Paseban (M. Suriansyah Ideham Dkk., 2003, 68-69).  Sultan Suriansyah dan Patih Masih mampu membangun Kerajaan Banjar menjadi sebuah kerajaan yang besar, aman-tenteram dan perekonomian masyarakatnya cukup makmur karena perdagangan dengan pihak luar dapat dilakukan dengan bebas tanpa adanya monopoli dari pihak manapun. Pengganti Sultan Suriansyah adalah Sultan Rahmatullah. Di bawah pemerintahan Sultan Rahmatullah Kerajaan Banjar semakin maju dan berkembang dengan wilayah kekuasaannya hampir mencakup seluruh Kalimantan. Perdagangan dengan para pedagang asing semakin berkembang pesat bahkan ada beberapa perwakilan dagang dari Cina dan Negara-negara Barat yang mendirikan kantor di Banjarmasin. Pusat Kerajaan Banjar di kawasan Kuin ini sekurang-kurangnya dapat berlangsung hingga tahun 1612. Pada tahun 1612 inilah terjadi peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh pasukan Belanda yang menghancurkan dan membumihanguskan Keraton Banjar. Saat itu Kerajaan Banjar di bawah pemerintahan Raja Mustaqimbillah (1595 – 1620). Setelah keraton hancur dan habis terbakar, maka pusat kerajaan dipindahkan ke Teluk Selong daerah Martapura. Dalam tulisannya tentang Perang Banjar, H. Gusti Mayur (1979) menjelaskan bahwa pemindahan ibukota kerajaan Banjar ke Kayu Tangi atau Bumi Selamat, daerah Martapura kira-kira tahun 1623. Sejak itulah tidak henti-hentinya terjadi pertempuran secara sporadis antara Belanda dan rakyat Banjar.

ARSITEKTUR KERATON

Keraton, sejauh yang dipahami menunjuk pada kekuasaan raja-raja, khususnya di tanah Jawa. Secara lebih spesifik disimbolkan melalui tempat kediaman raja beserta keluarga, pembantu dekat, dan para pengawalnya. Keraton juga dipahami berdasarkan pemahaman kebahasaan (linguistik). Kata keraton/karaton  (ke-ra-tu-an) diartikan untuk menunjukan tempat kediaman ratu atau raja, atau kedaton (ke-datu-an) yaitu berarti istana/kerajaan. Makna ini serupa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu keraton berarti tempat kediaman ratu atau raja; istana raja; kerajaan. Sebagai kediaman raja, keraton biasanya merupakan kompleks bangunan yang dikelilingi batas-batas teritorial yang jelas. Batas-batas ini  merupakan penanda yang secara visual sangat dikenal serta sangat fungsional, antara lain sebagai benteng pertahanan. Dari aspek keruangan, terdapat batas-batas imaginer yang memisahkan peruangan keraton, sehingga membentuk konsep hierarki yang berjenjang sesuai dengan strata sosial-kemasyarakatan ataupun maksud-maksud lainnya. Dalam Kitab Negarakertagama, karangan Mpu Prapanca disebutkan sebagian gambaran istana atau keraton Kerajaan Majapahit di bawah Raja Hayam Wuruk (1350-1389). Disebutkan bahwa pintu gerbang Istana Majapahit berada di sebelah utara dengan dilengkapi menara pengawas, sedangkan didalamnya terdapat alun-alun. Kompleks bangunan dikelilingi tembok batu berwarna merah dan disebelah tenggara terdapat tempat kediaman raja beserta saudaranya. Selain kompleks istana terdapat juga rumah-rumah pemuka agama, tempat-tempat suci (peribadatan), balai pertemuan, lapangan upacara, kediaman pejabat, dan berbagai bangunan lainnya.

MELACAK KERATON BANJAR

Tinggalan Arkeologis Tempat yang diyakini sebagai lokasi Keraton Banjar adalah lokasi yang saat ini terdapat kompleks makam Sultan Suriansyah dan sekitarnya di Kelurahan Kuin Utara, Kota Banjarmasin. Kompleks ini dahulunya sangat tidak terawat akibat kerusakan dan padatnya perumahan penduduk. Berdasar kondisi tersebut maka pada tahun 1982 oleh Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan Sejarah dan Purbakala Kalimantan Selatan. Proyek pemugaran dimulai tahun 1982 hingga 1986. Kondisi situs saat itu (1982) lebih menampakkan gambaran sebagai kompleks makam, daripada gambaran dahulunya adalah bagian dari Keraton Banjar. Hal ini disebabkan sejak tahun 1954 telah dibangun sebuah bangunan cungkup serta lebih dikenal oleh masyarakat sebagai lokasi makam Sultan Suriansyah. Dalam perkembangan selanjutnya kawasan tersebut justru menjadi kompleks pemakaman umum, sehingga pada saat dilaksanakan pemugaran, beberapa kuburan umum yang ada harus dibongkar untuk dipindahkan. Dalam cungkup makam sendiri terdapat 15 buah makam, sedangkan di luar cungkup juga masih terdapat banyak makam lainnya. Ke 15 buah makam tersebut adalah makam-makam para petinggi Kerajaan Banjar. Selain 15 makam, di dalam cungkup makam juga terdapat sumur dengan ukuran diameter ±1m yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit. Melihat kondisi pada saat sebelum dilakukan pemugaran, hampir tidak ada peninggalan bangunan keraton yang tersisa dan muncul di atas permukaan tanah, kecuali makam dan batu-batu yang berserakan. dilaksanakan pemugaran Dari hasil penggalian situs di tahun  1982 diperoleh adanya sebuah pola bebatuan yang menggambarkan sisa-sisa adanya 2 bagian (bagian barat dan bagian timur)  bangunan batu yang dihubungkan oleh sebuah ruang antara. Konstruksi bangunan batu (pondasi) yang ditemukan dalam kegiatan pemugaran situs Bangunan batu (pondasi) bagian barat merupakan situs makam yang di dalamnya terdapat makam Sultan Suriansyah, sedang bangunan batu bagian timur merupakan situs yang di dalamnya terdapat Makam Rahmatullah dan Makam Hidayatullah. Kedua bagian ini memiliki struktur batuan yang berbeda. Bagian barat memiliki struktur batu yang semua batunya menggunakan batu bata merah. Batu bata merah disusun secara bergantian antara panjang-lebar-panjang lebar-dst. Demikian juga pada lapisan-lapisan di atasnya. Batu-batu bata ini disusun tanpa menggunakan spesi. Batu bata merah ini berukuran 35x 23x 9 cm, dengan berat 3-5 Kg/biji. Pola yang membentuk ornamen geometris ini adalah sebagai berikut: dari atas ke bawah: ½ bata, ¾ bata, 1 bata, ¾ bata, ½ bata. Struktur batu pada bagian timur ini sangat berbeda, dimana terdiri dari dua jenis bata, yaitu batu bata merah (sama dengan bagian barat) dan batu bata putih. Karakter batu bata putih berbeda dengan batu bata merah, bata bata putih relatif lebih ringan dan lebih kecil ukurannya. Kedua batu ini disusun dengan pola: Batu bata merah di bagian bawah dan batu bata putih di bagian atas. Jika ditinjau dari ilmu struktur, penggunaan bata yang lebih ringan pada bagian atas akan meringankan beban pada pondasi di bawahnya. Dan jika ditinjau dari segi ornamentalis, maka penggunaan batu bata putih ini untuk mempermudah proses ukir pada batu bagian barat  bagian timur . Batu bata merah disusun dengan pola: panjang-lebar-panjang-lebar-dst (lapisan di atasnya juga demikian). Sedang batu bata putih disusun menyesuaikan dengan jenis ornamennya. Bagian timur ini terdiri dari 2 bagian, yaitu situs bagian depan (selatan)  dan bagian belakang (utara). Masing-masing bagian ini memiliki dinding bagian depan yang ornamentalis. Yang membedakan kedua bagian situs ini adalah tinggi lapisan alas yang terbuat dari batu bata merah dan jenis ornamennya. Dengan kata lain di antara kedua halaman yang ada dalam bagian ini tidak sama tingginya atau terdapat perbedaan elevasi. Pada bagian selatan, lapisan bata merah terdiri dari 5 lapisan, sedang di bagian utara terdiri dari 7 lapis bata merah. Bentuk Batuan. Dari beragamnya bentuk batuan yang ada, dapat diperkirakan bagaimana proses pembuatan konstruksinya. Berdasar informasi, batu merah yang  digunakan sejenis dengan batu yang terdapat di situs Candi Agung. Informasi ini dapat menunjukkan beberapa kemungkinan, (1)situs makam dibangun sejaman dengan situs Candi Agung atau setidaknya sebelum tahun 1612, (2)arsitektur situs makam dipengaruhi oleh kebudayaan Kerajaan Negara Daha (Hindu), (3)material batu bata merah, sebagaimana Candi Agung, diyakini tidak berasal dari daerah setempat, melainkan berasal dari Jawa, (4)teknologi dan keterampilan tenaga pembangunnya berasal dari Negara Daha. hal ini sangat mungkin, sebab menurut catatan sejarah setelah Sultan Suriansyah menjadi raja, sebagian besar penduduk Daha dipindah kedaerah Kuin. Tidak terlihat adanya pola tetap (ikatan) dalam penyusunan batu sebagaimana lazim dikenal saat ini. Batu disusun dari potongan-potongan yang volumenya relatif sama, selanjutnya baru dibentuk (dipahat) sesuai keinginan. Potongan-potongan batu yang ada, memiliki keseragaman dalam dimensi ketebalan (tinggi), khususnya untuk bagian yang sama, namun berbeda dalam hal dimensi lebarnya (panjang dan lebar). Beberapa ikatan batu bahkan membentuk patahan yang hampir segaris, hal ini berarti konstruksi batu tidak dimaksudkan untuk menahan beban yang besar. Terlihat bahwa batu putih yang diukir dengan berbagai bentuk hanya berada di sekeliling bagian timur yang menyerupai pelataran (sisi selatan). Mungkin sekali bagian ini memang sebuah pelataran, yang memiliki ketinggian (elevasi) lantai lebih rendah dari lantai utama yang berada di sebelah utaranya. Beberapa bentuk batuan yang tersusun di bagian ini sangat mengindikasikan bahwa bentuk batuan yang ada merupakan sebuah bagian bawah dari konstruksi pagar keliling. Hal lain yang menunjukkan pada bagian ini terdapat pagar adalah adanya bentuk batuan yang menyerupai kaki kolom dan tersusun secara beraturan pada tiap jarak 1,5 m. Bentuk kaki kolom ini berjumlah masing-masing 5 buah pada sisi kiri dan kanan dari sumbu as. Selain di bagian selatan, bentuk kaki kolom ini juga terdapat di sisi barat dan timur. Dan di bagian tengah dari dinding selatan terdapat undakan dengan penonjolan di bagian sisi kiri dan kanannya. Analisis Arsitektural Keraton. Upaya melacak arsitektur Keraton Banjar yang ada di situs makam ini sangat sulit dilaksanakan. Bukti-bukti peninggalan berupa bagian-bagian bangunan hampir tidak ditemukan, kecuali sisa-sisa struktur bangunan batu (pondasi) dari batu bata dan batu putih yang sudah dibahas sebelumnya. Walaupun demikian, terdapat beberapa sumber di luar situs yang dapat  memberi gambaran, yaitu; sumber sejarah Kerajaan Negara Daha, sumber sejarah Kotawaringin, sumber sejarah Kerajaan Banjar, dan sumber dari relief candi masa kerajaan Majapahit. Jika dikaitkan dengan sejarah periode Kerajaan Negara Daha (sebagai pendahulu Kerajaan Banjar) kemungkinan yang dapat membantu memberi gambaran tentang Keraton Banjar adalah fakta bahwa periode Negara Daha ini sejaman dengan masa akhir kejayaan kerajaan Majapahit. Hal ini berarti kemungkinan bentukan bangunan keratonnya juga serupa. Jika asumsi ini benar maka kita dapat mempergunakan informasi bangunan-bangunan pada jaman Majapahit, khususnya yang terdapat pada relief candi-candi dari masa Majapahit. Dari informasi relief tersebut dapat membantu untuk merekonstruksi bentukan Keraton Banjar. Juga melalui informasi tata kota kerajaan Majapahit (pola Mandala) dapat membantu menggambarkan lingkungan Keraton Banjar. Selain itu mungkin yang lebih pasti adalah kebudayaan (khususnya tata pemerintahan) Kerajaan Negara Daha yang sangat dipengaruhi tata pemerintahan di kerajaan Jawa (Majapahit). Dengan melihat tata pemerintahan Kerajaan Negara Daha, maka dapat diperkirakan bentuk tata kota Keraton Banjar berdasar struktur pemerintahan. Sejarah Kotawaringin diyakini dibangun oleh keturunan raja-raja Banjar. Jika asumsi ini yang dipakai maka gambaran Keraton Banjar lebih jelas, sebab peninggalan Istana Raja Kotawaringin masih terpelihara hingga kini. Dilihat dari masanya, pembangunan Istana Kotawaringin nampaknya pada periode dimana Kerajaan Banjar telah berpindah dari Kuin. Sebagaimana bangunan Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan, maka bangunan istana raja keraton ini dibangun pada kondisi politik kolonialis Belanda. Ada kemungkinan bangunan Istana Kotawaringin ini sangat berbeda jika dibandingkan keraton pada periode aman, seperti Keraton Kerajaan Negara Daha. Memang disebutkan dalam sebuah syair, bahwa Rumah Bubungan Tinggi adalah wadah (kediaman) raja-raja, dan Istana Raja Kotawaringin memiliki bentukan arsitektural yang mirip dengan rumah Bubungan Tinggi. Sumber lain yang dapat memberi gambaran adalah ilustrasi Keraton Banjar di Kayu Tangi (Martapura) dan berbagai bangunan lainnya pada masa lalu. Ilustrasi-ilustrasi tersebut bersumber dari buku-buku penulis Belanda yang juga dijadikan sumber informasi di Museum Negeri Lambung Mangkurat Banjarbaru. Dalam setiap ilustrasi terlihat adanya pagar tinggi yang terbuat dari batang pohon mengelilingi kompleks istana. Atap bangunan terlihat di balik pagar, dan memiliki bentuk limas persegi empat panjang. Walaupun ilustrasi tidak langsung menggambarkan Keraton Banjar di Kuin, namun dari gambaran Keraton Banjar di Kayu Tangi sudah memberi indikasi adanya kesamaan. Keraton Kayutangi merupakan Keraton Banjar yang dibangun setelah Keraton di Kuin di hancurkan Belanda. Dari semua informasi yang ada, jika dibandingkan dengan peninggalan situs  bangunan batu dimakam Sultan Suriansyah sangat berbeda sekali. Pada situs makam tidak terlihat sama sekali tanda-tanda bekas bangunan kerajaan atau rumah tinggal, juga dilingkungan sekitar kawasan Kuin dan daerah Kalimantan Selatan pada umumnya. Di beberapa kota seperti di Martapura terdapat sebuah kampung yang bernama Kampung Keraton, namun belum pernah dilaksanakan penelitian untuk menjelaskan hubungannya dengan keberadaan kerajaan atau Keraton Banjar. Kembali ke situs Makam Sultan Suriansyah yang ada, di masing-masing bagian pondasi/dinding batu putih yang berada di bagian selatan terdapat sejenis undakan yang diapit oleh dua bagian yang simetris. Kedua bagian tersebut, jika diamati dengan seksama menggambarkan adanya gambaran seperti sebuah gerbang. Adanya undakan (tangga) dilengkapi kaki kolom di kiri dan kanannya memperkuat dugaan ini. Selanjutnya dihubungkan dengan tipologi susunan batu yang telah diuraikan sebelumnya, dimana diyakini bahwa susunan batu putih yang ada di sisi selatan merupakan bagian bawah dari konstruksi pagar. Keyakinan bahwa bagian undakan ini adalah gapura dapat dilihat dari perubahan bentuk profil di sisi (kiri dan kanan) dengan di bagian tengahnya. Di bagian tengah terlihat tidak ada profil, dan hanya batas garis lurus saja, seperti batas elevasi untuk sebuah undakan (tangga). Walaupun saat ini di bagian tersebut terdapat tumpukan batu merah, namun tidak menghalangi asumsi ini. Adanya bentuk susunan batu yang merupakan bagian kaki sebuah pagar dan membentuk tekukan ke dalam menunjukkan bahwa bagian ini merupakan akses utama. Sebagai satu-satunya peninggalan yang masih ada di situs Kuin, keberadaan akses yang langsung menghadap ke Sungai Kuin ini memberi petunjuk bahwa sungai merupakan sarana transportasi yang penting pada masa itu. Berdasarkan hasil analisis  terhadap struktur batu yang ditemukan, dapat diperkirakan susunan batu diatas merupakan sebuah kaki gapura. Apabila perkiraan tersebut benar, maka dapat dipastikan bahwa struktur tersebut merupakan bagian dari sebuah pintu gerbang  sebagaimana yang ditemukan pada gerbang pertama di bagian selatan.  Jika bagian yang berundak ini merupakan gerbang atau setidaknya menyerupai sebuah jalan masuk, maka tentunya ada pagar dibagian kiri dan kanannya seperti lazimnya kompleks bangunan dari masa Hindu-Budha hingga masa awal masuknya agama Islam ke Indonesia Salah satu yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah bangunan di pengaruhi kebudayaan Hindu (Negara Daha) ataukah sudah dipengaruhi oleh ajaran agama Islam. Hal ini disebabkan dalam penelitian ini sempat diperoleh temuan batu yang bertuliskan huruf arab, namun masih perlu bukti lain. Pengaruh dari budaya Hindu-Budha jelas, terutama dari masa Majapahit. Hasil budaya materi seperti bangunan dan perkakas rumah tangga dari suatu periode biasanya secara kontinuitas dilestarikan pada masa-masa berikutnya dengan perubahan-perubahan yang menyesuaikan pada budaya baru. Proses seperti ini dikenal dengan istilah akulturasi budaya. Oleh karena itu, kompleks kraton Kerajaan Banjar tersebut jelas merupakan perpaduan antara budaya Islam dan budaya sebelumnya. Kemungkinan yang lain, kompleks yang diduga sebagai Kraton Kerajaan Banjar tersebut pada masa kejayaan Negara Daha sudah berfungsi sebagai daerah perwakilan dari Kerajaan Daha, setelah Sultan Suriansyah bertahta, maka kompleks tersebut dirubah dan difungsikan sebagai istana.   Dari berbagai data sejarah, sisa peninggalan arkeologis (baik yang terdapat dilingkungan situs makam, maupun tersebar di berbagai lokasi bekas Kraton Banjar) yang selanjutnya dianalisis sebagaimana di jelaskan sebelumnya, maka dicoba untuk membuat sebuah rekayasa bentuk Kraton Banjar.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan Situs Makam Sultan Suriansyah sejak ditemukan sudah diyakini baik oleh para peneliti maupun masyarakat sebagai situs makam, hal inilah yang mengaburkan interpretasi selanjutnya. Dari hasil kajian historis-arkeologis dan arsitektural dapat disimpulkan bahwa situs tersebut telah mengalami alih fungsi, yaitu dari semula yang merupakan kompleks bangunan profan, kemudian difungsikan sebagai bangunan sakral. Menjawab pertanyaan dimana Kraton Kerajaan Banjar berada? Jawabannya adalah di lokasi yang sekarang merupakan kompleks pemakaman Sultan Suriansyah. Peneliti yakin, bahwa jawaban di atas jelas merupakan suatu hal yang dianggap kontroversial oleh kalangan yang  “main set“nya telah terpatri bahwa situs yang ditemukan di Kuin tersebut adalah situs makam. Data tekstual maupun artefaktual menunjukkan dan memperkuat jawaban di atas. Kajian arsitektural yang dilakukan dengan mencermati struktur bangunan batu yang sisa-sisanya ditemukan pada pondasi bangunan makam, menjelaskan bahwa di kompleks makam tersebut dahulu terdapat lebih dari satu unit bangunan. Apabila dapat dilakukan pembongkaran kembali pada bagian-bagian tertentu di situs tersebut, kemungkinan akan ditemukan jumlah bangunan yang ada di kompleks tersebut berdasarkan sisa-sisa pondasinya. Untuk merekonstruksi istana kerajaan Banjar, terutama bentuk dan arsitektur bangunannya, merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Berdasarkan sisa-sisa pondasi dan struktur batu yang ditemukan tidak cukup untuk menggambarkan bentuk dan arsitektur bagian atasnya. Dengan melakukan analogi-analogi dan perbandingan dari model-model yang ditemukan di tempat lain, maka akan dapat “direkayasa“ bagaimana model kompleks Kraton Banjar. Bangunan dengan pondasi dan kaki dari bata dan batu, sedang konstruksi lainnya dari bahan kayu sudah dikenal sejak berdirinya Negara Dipa dan Negara Daha. Sisa-sisa balok kayu ulin dari hasil penggalian penelitian arkeologis di kompleks  Candi Agung dan Candi Laras yang menunjukkan bagian dari konstruksi bangunan memperkuat dugaan di atas.

Saran Satu hal penting yang belum dapat dilakukan dalam kajian historis-arkeologis dan arsitektural pada kompleks Makam Sultan Suriansyah ini adalah pertanggalan absolut dari data artefaktual yang ditemukan. Pertanggalan atau  dating untuk mengetahui umur suatu artefak arkeologi mutlak diperlukan hal ini agar interpretasi yang diberikan akan lebih akurat. Ada dua metode penentuan umur yang dapat dilakukan dari sampel yang ada, yaitu dating dengan menggunakan bahan carbon 14, yaitu dengan mencari sampel berupa bahan kayu yang diperkirakan berasal dari masa sebelum datangnya agama Islam ke Banjar. Pertanggalan absolut juga dapat dilakukan dengan menggunakan sampel dari bahan-bahan yang pembuatannya dengan cara dibakar seperti keramik,batu bata, dan sebagainya. Adapun metode  datingnya dikenal dengan istilah Thermoluminisens. Untuk itu perlu diupayakan untuk mengetahui umur absolut dari situs Makam Sultan Suriansyah di atas. Apabila ditemukan umur yang lebih tua dari tahun wafatnya Sultan Suriansyah, maka dapat dipastikan bahwa bangunan di kompleks Makam Sultan Suriansyah tersebut pada awalnya merupakan bangunan yang bersifat profan, kemudian dialih fungsikan yaitu dijadikan sebagai lokasi pemakaman. Kajian historis-arkeologis dan arsitektural kompleks Makam Sultan Suriansyah ini bukanlah merupakan hasil final. Walaupun penelitian sudah cukup detail, akan tetapi masih diperlukan satu tahan penelitian yang lebih kolaboratif antar disiplin ilmu dan lebih komprehensif. Beberapa disiplin ilmu seperti sejarah, arkeologi, arsitektur, sipil, dan disiplin geologi perlu duduk bersama dan merencanakan satu penelitian tentang kawasan Kuin pada masa awal pemerintahan Sultan Suriansyah yang terkait dengan masa-masa sebelumnya yaitu pada masa pemerintahan Negara Dipa dan Negara Daha. Perlunya seorang ahli geologi diharapkan dapat mengkaji tentang perubahan kondisi lingkungan dari beberapa ratus tahun yang lalu hingga sekarang.

DAFTAR PUSTAKA

Alfred R. Wallace, Menjelajah Nusantara, Ekspedisi: Alfred Russel Wallace Abad 19, Penerbit PT. Remaja Rosdakarya Bandung. 2000. Anonim,  Tutur Candi, transkripsi dari huruf Arab Melayu ke huruf Latin oleh Saperi Kadir, BA. Diterbitkan oleh Proyek Pengembangan Permuseuman Propinsi Kalimantan Selatan. 1982/1983.

Anonim, Hikayat Banjar, Seri Penerbitan Museum Negeri Lambungmangkurat, Museum Negeri Propinsi Kalimantan Selatan, Direktorat Permuseuman. 1999/2000.

Bellwood, Peter,  Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia, Edisi Revisi, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 2000.

Bondan, Amir Hasan. Suluh Sejarah Kalimantan.

Darmayanti, Rully, dkk.  Kawasan “Pusat Kota” dalam Perkembangan Sejarah Perkotaan di Jawa. Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 33, No.1. 2005.

Fang, Liaw Yock. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik, Jilid 2. Erlangga. Jakarta. 1993.

Gazali Usman dan Syamlan Noor, Kabupaten Tapin, Sejarah dan Perkembangannya, Pemerintah Kabupaten Tapin. 2004.

Gunadi,”Laporan Hasil Penelitian Arkeologi: Daerah Aliran Sungai Kayan”, Kecamatan Kayan Hulu dan Kayan Selatan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur,  Balai Arkeologi Banjarmasin (belum diterbitkan). 2006.

Gunadi,”Laporan Hasil Survei Kapal Onrust di Hulu Sungai Barito, Muara Teweh, Kalimantan Tengah”, Balai Arkeologi Banjarmasin bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Barito Utara, (belum diterbitkan). 2006

Gunadi. Laporan Penelitian Arkeologi, Melacak Sisa-Sisa Kerajaan Banjar di Kawasan Kayu Tanggi Kalimantan Selatan. Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Asdep Urusan Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi. Banjarmasin. 2004.

H.G. Mayur,  Perang Banjar, Penerbit CV. Rapi, Banjarmasin. 1979.

Ideham, M. Syuriansyah, dkk. Urang Banjar dan Kebudayaannya. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan. Banjarmasin. 2005.

Jacobs, Ras Johannes. Hikayat Banjar. Disertasi Leiden. 1968.

KS, Tugiono, dkk. Peninggalan Situs dan Bangunan Bercorak Islami di Indonesia. PT. Mutiara Sumber Widya. Jakarta. 2001.

M. Idwar Saleh, Lukisan Perang Banjar 1859 – 1865, Proyek Pengembangan Permuseuman Kalimantan Selatan, Museum Negeri Propinsi Kalimantan Selatan. 1982/1983.

M. Suriansyah Ideham Dkk.,  Sejarah Banjar, Diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah, Propinsi Kalimantan Selatan. 2003.

Purwadi,  Babad Tanah Jawi, Menulusuri Jejak Konflik, Penerbit Pustaka Alif, Pikgondang, Condongcatur, Yogyakarta, Cetakan Pertama. 2001.

Riwut, Tjilik. Kalimantan Membangun Alam dan Kebudayaan. PT. Tiara Wacana. Yogyakarta. 1993.

Saleh, Idwar.. Banjarmasih. Museum Lambung Mangkurat. Banjarbaru.

Saleh, Idwar. Bandjarmasin Selajang Pandang Mengenai Bangkitnja Keradjaan Bandjarmasin, Posisi, Funksi dan Artinja Dalam Sedjarah Indonesia dalam Abad Ketudjubelas. KPPK Balai Pendidikan Guru. Bandung. 1958.

Sjamsuddin, Helius. Pegustian dan Temenggung, Akar Sosial, Politik, Etnis dan Dinasti. Balai Pustaka. Jakarta. 2001.

Sjarifuddin, dkk. Sejarah Banjar. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan. Banjarmasin. 2003.

Tanudirjo dan Prasetyo,“Model Out of Taiwan Dalam Perspektif Arkeologi Indonesia”, dalam:  Polemik Tentang Masyarakat Austronesia, Fakta atau Fiksi?, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 2004.

Widianto, Harry,“Karakter Budaya Prasejarah Di Kawasan Gunung Batu Buli, Kalimantan Selatan: Mekanisme Hunian Gua Pasca- Plestosen,  Berita Penelitian Arkeologi, Balai Arkeologi Banjarmasin. 2003.

Iklan

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: