malaikatpararoh

Peduli Seni Dan Budaya Lewat Tulisan

Seni Dan Agama

Membicarakan fenomena agama dan seni sangat menarik karena hubungan yang erat antara keduanya. Seni atau kesenian adalah manifestasi budaya (priksa, rasa, karsa, intuisi, dan karya) manusia yang memenuhi syarat-syarat estetik. Dalam ensiklopedi Indonesia dijelaskan bahwa seni merupakan penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa orang, dilahirkan dengan perantaraan alat-alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera, baik itu pendengaran (misalnya seni suara), indera penglihatan (misalnya seni lukis) ataupun yang dilahirkan dengan perantaraan gerak (misalnya seni tari dan drama). Secara garis besar, seni dapat dibedakan atas hal-hal sebagai berikut: 1. Seni sastra atau kesusastraan, yaitu seni dengan alat bahasa. 2. Seni musik yaitu seni dengan alat bunyi atau suara. 3. Seni tari yaitu seni dengan alat gerak. 4. Seni rupa yaitu seni dengan alat garis, bentuk, warna. 5. Seni drama atau teater yaitu seni dengan alat komunikasi sastra, musik, tari atau gerak atau rupa. Seni di kalangan masyarakat primitive jelas merupakan ekspresi kepercayaan mereka. Seni tari yang mereka kembangkan adalah dalam rangka pemujaan hewan totem. Seni pahat, nyanyian atau suara, juga demikian.demian juga masyarakat primitive yang lain, karya seni mereka tidak dapat dipisahka, bahkan penampilan, dari keyakinan keagamaan atau kepercayaan itu sendiri. Tarian dan nyanyian masyarakat primitive adalah tarian dan nyanyian mistik. Masyarakat kuno yang telah maju, seperti bangsa mesir kuno, telah mampu menghasilkan karya pyramid, obelisk, spink, lukisan dan huruf hyeroliph. Pyramid dan tempat penyimpanan mayat dalam gua-gua batu dibuat sedemikian rupa sehingga merupakan keajaiban dunia sampai saat ini. Keberhasilan demikian di dorong oleh kepercayaan ada hidup sesudah mati. Di ruangan tempat mayat disimpan, penuh dengan tulisan hyerogliph yang mengajarkan bagaimana nanti perjalanan sesudah mati dan bagaimana menghadapinya. Mayat mereka juga dibalsem supaya awet karena juga didorong oleh kepercayaan kepada keabadian. Karya seni besar di India, yaitu kisah Ramayan dan Mahabharata, jelas kisah epik keagamaan Hindu. Candi juga peninggalan seni bangunan dan arsitektur keagamaan Hindu dan Budha. Di Bali sampai saat ini dapat disaksikan dengan jelas betapa seni ukir dan seni tari berkembang demikian pesat sehingga menjadi daya tarik turisme mancanegara karena digerakkan oleh kepercayaan mereka. Pura, bahkan bangunan rumah sekali pun, dibuat dengan ukiran berbagai dewa. Gereja dan nyanyian kebaktian dalam Kristen adalah penampilan dari karya seni arsitektur dan seni suara yang dilahirkan oleh paham dan rasa keagamaan penganutnya. Gambaran yang telah dikemukakan menunjukkan bahwa Islam sudah lama menumbuhkan sebuah tradisi seni yang adiluhung, terutama dalam sastra, kaligrafi, seni dekoratif dan lain-lain. Seni kaligrafi dan arsitektur masjid dalam islam juga karya seni yang berhubungan dengan wahyu dan tempat menyembah Allah. Para sufi menulis cerita dan puisi yang sarat dengan pengembaraan mereka mendekati dan menemui Allah di alam ruhani. Kelompok keagamaan yang berusaha untuk lebih kaffah menampilkan seni nasyid dan pembacaan Alquran dengan seni murattal, tidak dengan terlalu diragukan. Tidak seperti paham keagamaan yang agak longgar. Seni mereka adalah nyanyian gambus dan bacaan alquran dengan irama yang agak bersifat tarik suara seperti yang sering di dengar dalam Musabaqah Tilawatil Quran. Dengan demikian, jelas betapa seni suatu umat beragama tidak lain dari ekspresi keagamaan mereka itu sendiri. Bahkan, suatu kelompok keagamaan juga punya kesenian yang berbeda dengan kelompok lain. Dalam Islam, tidak ada teori atau ajaran yang terinci mengenai seni dan estetika (berbeda halnya dengan etika). Jika disimpulkan hal tersebut tidak keliru, hanya saja kita mencatat hal-hal sebagai berikut Islam adalah agama fitrah, agama yang serasi benar dengan fitrah kejadian manusia (ar-Ruum: 30). Kesenian bagi manusia juga termasuk fitrahnya. Kesanggupan berseni ini pulalah yang membedakan antara manusia dan makhluk Tuhan lainnya. Allah memiliki segala sifat yang baik (al-A’raaf: 10), seperti Jamal (Mahaindah), Jalal (Mahaagung), dan Kamal (Mahasempurna). (as-Sajdah: 6, 23, 14), sedangkan manusia merupakan khalifah Tuhan (al-Baqarah: 30;al-An’aam: 165; al-Ahzaab: 72; Faathir: 39) mengemban amanah mewakili Tuhan diatas dunia dalam batas-batas kemampuan manusia. Seni adalah hidup, sekaligus bagian dari hidup manusia. Seni juga merupakan manifestasi dan refleksi dari kehidupan manusia. Memenuhi panggilan kepada yang lebih menghidupkan manusia dalam pelbagai lapangan adalah wajib bagi muslim menurut kemampuan mereka masing-masing. Berkreasi seni merupakan jawaban positif terhadap panggilan yang lebih menghidupkan itu. Kesenian itu pada dasarnya menurut penilaian hukum Islam adalah mubah, jaiz, boleh. Hal-hal lain yang diluar seni itu sendiri dapat membawa perubahan kepada penilan hokum itu, umpamanya dari mubah menjadi makruh. Sebaliknya karya seni, yaitu hal-hal yang memenuhi syarat-syarat estetik, menurut penilaian Islam merupakan karya, sekaligus ibadah atau pengabdian bila memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. Ikhlas sebagai titik tolak b. Mardhatillah sebagai titik tuju c. Amal saleh sebagai garis amal Pertanyaan lama yang senantiasa baru dalam estetika dan kehidupan kesenian adalah “Seni untuk senikah? Seni untuk rakyatkah? Seni untuk manusiakah?” bagi setiap muslim tidak sulit untuk menentukan jawaban atas pertanyaan atas pertanyaan itu. Seni merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri. Dengan demikian, pertanyaan “seni untuk apa?” Sama saja dengan “hidup untuk apa?” tujuan kesenian adalah sama dengan tujuan hidup itu sendiri. Tujuan hidup setiap muslim adalah kebahagiaan spiritual dan material di dunia dan akhirat serta menjadi rahmat bagi segenap alam dibawah naungan keridhaan Allah. Ditinjau dari fungsinya, maka seni merupakan media untuk mensyukuri nikmat Tuhan. Allah telah berkenan menganugerahi manusia dengan berbagai potensi, baik potensi rohani (af’idah) maupun potensi indrawi (mata, telinga, dan lain sebagainya). Fungsi seni adalah untuk menghayati sepuhan Allah (shibghatu’ilah), baik yang teradapat pada alam, maupun yang terdapat pada kreasi manusia. Seorang muslim yang baik, yang terikat jiwanya kepada Islam, yang berkreasi seni pada hakikatnya adalah melaksanakan tugas ibadah dan menunaikan fungsi khilafah. Persoalan hubungan Islam dengan seni, sebenarnya bukan hanya persoalan sikap kebanyakan ulama dan fuqaha (ahli hukum Islam) yang kaku dan risih terhadap kegiatan seni. Persoalan yang tak kalah penting justru menyangkut hal-hal mendasar. Pertama, menyusutnya ingatan kolektif umat Islam terhadap khazanah budaya Islam, khususnya seninya, yang kaya dan pernah berkem_ang selama beberapa abad bukan saja di belahan negeri Arab dan Persia, tetapi juga di kepulauan Nusantara; Kedua, merosotnya pemahaman konseptual tentang seni di kalangan luas pemeluk agama Islam, serta ketidakpedulian mereka terhadap arti dan peranan penting seni dalam kehidupan. Khususnya sebagai sarana pendidikan dan pemekaran imaginasi, yang niscaya bermanfaat bagi perkembangan kebudayaan dan peningkatan kreativitas umat. Akan tetapi, karya seni masyarakat secular tampak sudah demikian materialis dan biologis. Yang menjadi tumpuan perhatian, seperti dalam percintaan muda mudi, adalah kecantikan wajah dan penampilan, tidak budi luhur dan kedalaman perasaan. Tarian juga sangat di dominasi goyang dan penampilan erotis. Semua penampilan materialis biologis dari seni modern tidak terlepas dari kaitannya dengan “agama”. Seni masyarakat sekular dihasilkan oleh “agama” mereka yang dinamakan materialisme itu. Materialisme dianut dan dipercayai sebagai suatu kebenaran satu-satunya. Materi dan fisik adalah sesuatu yang amat dipentingkan dan mendominasi kehidupan masyarakat modern, sehingga lahirlah seni yang vulgar. Dengan kata lain, tanpa disadari, hiburan dan seni telah terkontaminasi oleh kemewahan dan budaya hedonism terutama dari sisi estetika yang indah dan lurus. Sebagian orang menggambarkan umat Islam sebagai masyarakat ahli ibadah dan kerja keras, maka tak ada tempat bagi orang-orang yang lalai dan bermain-main, seperti tertawa bergembira ria, bernyanyi atau bermain music. Tidak boleh bibir tersenyum, hati senang, dan tak boleh kecantikan terlukis pada wajah-wajah manusia. Mungkin sebagian orang yang berfikiran ekstrim setuju terhadap sikap mereka yang bermuka masam, dahi berkerut, dengan penampilan seram dan orang yang keras, putus harapan gagal atau gagap. Namun, sebenarnya keperibadian yang buruk ini bukanlah dari ajaran agama. Artinya, mereka sendirilah yang mewajibkan tabiat buruk tersebut atas nama agama. Sementara agama sendiri tidak memerintahkannya, melainkan persepsi merekalah yang keliru. Kebalikan dari tabiat di atas adalah orang-orang yang bebas mengumbar hawa nafsunya, di mana hidupnya diisi dengan hiburan dan kesenangan, mencampuradukkan antara yang disyariatkan dan yang dilarang, antara yang halal dan haram. Mereka serba permisif dan mengeksploitasikan kebebasannya, menyebarkan kesesatan terselubung maupun terang-terangan. Semuanya mengatasnamakan seni atau refresing. Mereka lupa bahwa hukum agama tidak melihat label namanya tetapi pada esensinya. Dan semua perkara itu tergantung apa yang dimaksudkan.

Legenda Kapal Hantu “The Flying Dutchman”

Menurut cerita rakyat , The Flying Dutchman adalah kapal hantu yang tidak akan pernah bisa berlabuh, tetapi harus mengarungi “tujuh lautan” selamanya.Flying Dutchman selalu terlihat dari kejauhan , kadang-kadang disinari dengan sorot cahaya redup.
Banyak versi dari cerita ini. Menurut beberapa sumber, Legenda ini berasal dari Belanda, sementara itu yang lain meng-claim bahwa itu berasal dari sandiwara Inggris The Flying Dutchman (1826) oleh Edward Fitzball dan novel “The Phantom Ship” (1837) oleh Frederick Marryat, kemudian di adaptasi ke cerita Belanda “Het Vliegend Schip” (The Flying Ship) oleh pastor Belanda A.H.C. Römer.

Versi lainnya termasuk opera oleh Richard Wagner (1841) dan “The Flying Dutchman on Tappan Sea” oleh Washington Irving (1855).

Beberapa sumber terpercaya menyebutkan bahwa pada abad 17 seorang kapten Belanda bernama Bernard Fokke (versi lain menyebut kapten “Ramhout Van Dam” atau “Van der Decken”) mengarungi lautan dari Holland ke pulau Jawa dengan kecepatan luar biasa.
Ia dicurigai meminta bantuan iblis untuk mencapai kecepatan tadi. Namun ditengah pelayarannya menuju Cape of God Hope tiba-tiba cuaca buruk,sehingga kapal oleng. Lalu seorang awak kapal meminta supaya pelayaran dihentikan .

Tetapi sang kapten tidak mau ,lalu dia berkata “aku bersumpah tidak akan mundur dan akan terus menembus badai untuk mencapai tempat tujuanku , atau aku beserta semua awak kapalku akan terkutuk selamanya” Tiba -tiba badai menghantam kapal itu sehingga mereka kalah melawan alam.

Dan terkutuklah selama-lamanya Sang Kapten bersama para anak kapalnya itu menjadi jasad hidup dan berlayar di tujuh lautan untuk selama-lamanya.
Konon , Kapal tersebut dikutuk untuk melayari 7 samudera sampai akhir zaman. lalu cerita itu menyebar sangat cepat ke seluruh dunia.

Sumber lain juga menyebutkan munculnya penyakit berbahaya di kalangan awak kapal sehingga mereka tidak diijinkan untuk berlabuh dipelabuhan manapun .
Sejak itu, kapal dan awaknya dihukum untuk selalu berlayar, tidak pernah berlabuh/menepi. Menurut beberapa versi, ini terjadi pada tahun 1641, yang lain menebak tahun 1680 atau 1729.

Terneuzen (Belanda) disebut sebagai rumah sang legenda Flying Dutchman, Van der Decken, seorang kapten yang mengutuk Tuhan dan telah dihukum untuk mengarungi lautan selamanya, telah diceritakan dalam novel karya Frederick Marryat – The Phantom Ship dan Richard Wagner opera.

Banyak saksi yang mengaku telah melihat kapal hantu ini. Pada tahun 1939 kapal ini terlihat di Mulkzenberg. Pada tahun 1941 seklompok orang di pantai Glencairn menyaksikan kapal berlayar yang tiba – tiba lenyap ketika akan menubruk batu karang.
Penampakan The Flying Dutchman kembali terlihat oleh awak kapal laut militer M.H.S Jubilee di dekat Cape Town di bulan agustus 1942.

Bahkan ada suatu catatan kisah tentang pelayaran Christoper Columbus,waktu itu awak kapal Columbus melihat kapal terkatung katung dengan layar mengembang.setelah itu awak yang pertama melihat langsung tewas seketika.

Mitos akhir-akhir ini juga mengisahkan apabila suatu kapal modern melihat kapal hantu ini dan awak kapal modern memberi signal, maka kapal modern itu akan tenggelam / celaka.

Bagi seorang pelaut , pertemuan yang tak diduga dengan kapal hantu The Flying Dutchman akan mendatangkan bahaya bagi mereka dan konon , ada suatu cara untuk mengelak dari kemungkinan berpapasan dengan kapal hantu tersebut , yakni dengan memasangkan tapal kuda di tiang layar kapal mereka sebagai perlindungan.

Selama berabad – abad, legenda The Flying Dutchman menjadi sumber inspirasi para sastrawan dan novelis. Sejak tahun 1826 Edward Fitzball telah menulis novel The Pantom Ship (1837) yang diangkat dari pengalaman bertemu dengan kapal seram ini.
Banyak pujangga terkenal seperti Washington Irving dan Sir Walter Scott juga tertarik mengangkat legenda ini.

Istilah Flying Dutchman juga dipakai untuk julukan beberapa atlet sepakbola, terutama para pemain ternama asal Belanda. Ironisnya, bintang veteran negeri Orange, Dennis Bergkamp justru dikenal sebagai orang yang phobia atau takut untuk terbang, sehingga ia dijuluki The Non-Flying Dutchman.

Beberapa Laporan Penampakan The Flying Dutchman yang sempat didokumentasikan :

1823 : Kapten Oweb , HMS Leven mengisahkan telah dua kali melihat sebuah kapal kosong terombang ambing ditengah lautan dari kejauhan , namun dalam sekejap mata kapal tersebut kemudian menghilang.

1835 : Dikisahkan pada tahun itu , sebuah kapal berbendera Inggris yang terkepung oleh badai ditengah samudera, didatangi oleh sebuah kapal asing yang disebut-sebut sebagai Kapal Hantu The Flying Dutchman , kemudian secara tiba-tiba kapal asing tersebut mendekat dan seakan-akan ingin menabrak kapal mereka , namun anehnya sebelum keduanya saling berbenturan kapal asing tersebut kemudian lenyap seketika.

1881 : Tiga orang anak kapal HMS Bacchante termasuk King George V telah melihat sebuat kapal tak berawak yang berlayar menentang arus kapal mereka. Keesokan harinya , salah seorang daripada mereka ditemui mati dalam keadaan yang mengerikan.

1879 : Anak kapal SS Pretoria juga mengaku pernah melihat kapal hantu tersebut.

1939 : kapal ini terlihat di Mulkzenberg , beberapa orang yang menyaksikannya terkejut kerana kapal usang tersebut tiba-tiba menghilang

1941 : Beberapa saksi mata dipantai Glencairn melaporkan sebuah kapal usang yang menabrak batu karang dan terpecah belah , namun setelah dilakukan penyelidikan di TKP , tidak ada tanda-tanda dari bangkai kapal tersebut.

1942 : Empat orang saksi telah melihat sebuah kapal kosong memasuki perairan Table Bay kemudian menghilang.Seorang pegawai telah mendokumentasikan penemuan tersebut di dalam catatan hariannya.

1942 : Penampakan The Flying Dutchman kembali terlihat oleh awak kapal laut militer M.H.S Jubilee di dekat Cape Town di bulan agustus 1942

1959 : Awak kapal Straat Magelhaen kembali melaporakan melihat sebuah kapal misterius yang terombang-ambing ditengah lautan dalam keadaan kosong dengan teleskopnya.

Sumber: http://www.dunia-unik.com

Makna Hari Kartini

Raden Adjeng Kartini sang Pahlawan Nasional Indonesia sebagai pelopor perjuangan kaum perempuan, simbol persamaan gender, emansipasi wanita di Indonesi.

Raden Adjeng Kartinidalah putri dari golongan bangsawan Jawa “Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat”, Bupati Jepara pada saat itu berkuasa. Kartini lahir di Jepara, tanggal 21 April 1879 dan wafat pada tanggal 17 September 1904 di Rembang.

Setiap  Tanggal  21  April  kita  sebagai  warga  negara  Indonesia  khususnya perempuan  merayakan  Hari Kartini, dari  tahun  ke  tahun  sejauh  yang  kita ingat  setiap  hari  Kartini  disekolah  diwajibkan  memakai  pakaian  adat daerah  dari  berbagai  pelosok  tanah  air  atau  kegiatan‐kegiatan  yang berkaitan  dengan  kewanitaan. Dimana  kaum  perempuan  bisa  sekolah setinggi‐tingginya,  dan  mendapatkan  hak  yang  sama  dengan kaum pria. 

Tapi Ironisnya justru setelah sekian lama kondisi kaum perempuan saat ini masih banyak yang jauh dari harapan, ada  yang  mandiri  seolah‐olah   bisa hidup  tanpa  kaum  pria,atau  kaum  perempuan  menjadi budak  di  negeri orang  dan  menjadi  bahan  pelecehan  atau  diperjual  belikan.Yang seharusnya  adalah kesetaraan,saling menghormati, saling mendukung,dan saling menjaga kebebasan secara manusiawi. 

Di dalam keluarga, di dalam pekerjaan, di dalam masyarakat, masih banyak kita lihat ketidak adilan yang  diterima  oleh  kaum  perempuan.Tapi  apakah sebagai  perempuan  harus  diam  diperlakukan  seperti  itu…Nasib  kita sebagai  kaum  perempuan  ada  ditangan  kita  sendiri,jadi  perlihatkan  kalau kaum perempuan  itu  tidak  lemah  dan  mempunyai  kekuatan  untuk melebihi  kaum  pria  tapi  tidak  lepas  dari tanggung jawab terhadap keluarga, pekerjaan ,dan masyarakat sebagai kodratnya kaum perempuan. 

Semoga makna hari kartini  ditahun  ini  dan  juga  tahun‐tahun  mendatang bukan  sekedar  memperingati dengan  kegiatan‐kegiatan  tapi  muncul Kartini‐Kartini  baru  yang  melegenda  seperti  Ibu  Kartini. Sebuah bangsa akan maju tergantung pada kualitas perempuan.Dan dibalik suksesnya sebuah keluarga biasanya ada  seorang  perempuan yang  kuat, dan  tabah memikul  beban  sebagai  seorang  istri, seorang  ibu, seorang karyawati dan seorang wanita yang baik berkepribadian.

Habis Gelap Terbitlah Terang ( Door Duisternis tot Lich ) merupakan sebuah buku kumpulan surat-surat Kartini yang di kirimkan kepada sahabat-sahabatnya di Belanda. Buku tersebut merupakan bukti begitu besar keinginan seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya sebagai pelopor kebangkitan perempuan, Presiden Soekarno menetapkan tanggal 21 April sebagai hari lahir Kartini dan sekaligus juga menetapkan Raden Adjeng Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang di peringati setiap tahun. Dan sekarang di kenal dengan Hari Kartini.

Pekan Seni Mahasiswa Nasional XI

Silakan Download

buku_panduan_peksiminas11

buku_materi_peksiminas11

Peksiminas merupakan puncak kegiatan kemahasiswaan di bidang pengembangan bakat dan minat mahasiswa dalam bidang seni. Peksiminas diselenggarakan sekali dalam dua tahun oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendiknas dengan menunjuk salah satu pengurus BPSMI (Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia) sebagai panitia penyelenggara kegiatan.

Peserta adalah hasil seleksi terbaik dari mahasiswa peserta yang ikut pada pekan seni mahasiswa daerah (peksimida). Seperti dinyatakan di dalam Pola Pengembangan kemahasiswaan yang diterbitkan oleh Ditjen Dikti Depdiknas tahun 2006 penyelenggaraan Peksiminas bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan praktik mahasiwa dalam menumbuhkan apresiasi terhadap seni, baik seni suara, seni
pertunjukan, penulisan sastra, seni rupa, dll. Kegiatan Peksiminas untuk pertama kalinya diselenggarakan di kota Surakarta pada tahun 1991.

Berikut ini adalah penyelenggaraan /Penyelenggara Peksiminas

1. Peksiminas I 1991 Pengda BPSMI Jawa Tengah Surakarta
2. Peksiminas II 1993 Pengda BPSMI Bali Denpasar
3. Peksiminas III 1995 Pengda BPSMI DKI Jakarta
4. Peksiminas IV 1997 Pengda BPSMI Jawa Barat Bandung
5. Peksiminas V 1999 Pengda BPSMI Jawa Timur Surabaya
6. Peksiminas VI 2002 Pengda BPSMI DIY Yogyakarta
7. Peksiminas VII 2004 Pengda BPSMI Lampung Bandar Lampung
8. Peksiminas VIII 2006 Pengda BPSMI Sulawesi Selatan Makassar
9. Peksiminas IX 2008 Pengda BPSMI Jambi Jambi
10 Peksiminas X 2010 Pengprov BPSMI Kalimantan Barat Pontianak

Temu Teater Mahasiswa Nusantara X

salam budaya !

silakan download

PROPOSAL TTMN X

Kepada rekan-rekan  Teater Mahasiswa se-Nusantara bahwa Pelaksanaan Temu Teman X diajukan pada tanggal 09-15 Juli 2012 dengan pertimbangan beberapa sebagai berikut :
1.Sesuai Kalender Akademik PT se-Indonesia bahwa pelaksanaan OSPEK/OPAK dilaksanakan dari tanggal 27-31 Agustus 2012. Sedangkan awal masuk kuliah dimulai 01-05 September 2012.
2.Di STAIN Purwokerto tgl 01 September 2012 ada Wisuda Sarjana dan tanggal 03 September 2012 ada pelaksanaan Ujian Praktek Bagi Mahasiswa Baru.
3.Biaya Transportasi Pasca Lebaran naik 2-3 kali lipat, apalagi dengan rencana kenaikan BBM. Agar masalah transportasi tidak menjadi kendala besar buat teman-teman.
4.Bulan Juli adalah waktu liburan yang bebas dari aktivitas kampus/perkuliahan, diharapkan agar teman-teman dapat menikmati waktu libur dengan seksama di Purwokerto.
Informasi Lain :
A.Biaya Registrasi Peserta sebesar Rp. 170.000,00 dipergunakan untuk :
a.Makan Peserta sebanyak 18 kali (6 hari).
b.Kaos/T-Shirt.
c.Buku Antologi Naskah/Essai (Per Komunitas)
d.Materi Workshop, seminar dan diskusi.
e.Tiket Wisata.
B.Bagi Komunitas yang hendak mementaskan karyanya, tidak diwajibkan mengirimkan CD (Tidak ada kurasi Pentas), hanya konsep penyutradaraan, biografi Komunitas dan, Katalog, Sinopsis dan foto-foto dokumentasi.
C.Pementasan dibatasi maksimal 25 pementasan untuk 1 lokasi pertunjukan. Jika pendaftar pentas melebihi 40 Komunitas, akan disediakan 2 gedung pementasan (GOR STAIN dan Soemardjito UNSOED)

Lomba Cipta Puisi dan Mengarang Cerpen Nasional, Aruh Sastra Kalimantan Selatan IX, Banjarmasin, 14-16 September 2012

Image

 

 

 

ARUH SASTRA KALIMANTAN SELATAN IX Banjarmasin, 14-16 September 2012 Di Kota Seribu Sungai Seni Budaya Kita Kayuh Baimbai Sekapur Sirih Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) adalah agenda budaya yang berlangsung sekali dalam setahun, setelah ASKS I di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (2004), ASKS II di Pagatan, Kabupaten Tanah Bumbu (2005), ASKS III di Kotabaru, Kabupaten Kotabaru (2006), ASKS IV di Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (2007), ASKS V di Paringin, Kabupaten Balangan (2008), ASKS VI di Marabahan, Kabupaten Batola (2009), ASKS VII di Tanjung, Kabupaten Tabalong (2010), ASKS VIII di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (2011) dan ASKS IX di Kota Banjarmasin (2012). Pedoman Pelaksanaan ini dibuat sebagai panduan bagi panitia pelaksana dan peserta acara. Kepada semua pihak diharapkan bantuan, dukungan dan partisipasinya, agar seluruh kegiatan dapat berjalan dengan baik dan lancar.

A. Dasar Pelaksanaan ASKS IX di Kota Banjarmasin dilaksanakan atas amanat/mandat/rekomendasi Sidang Pleno ASKS VII di Tanjung, Kabupaten Tabalong (2010), ditegaskan lagi dalam Sidang Pleno ASKS VIII di Barabai, Kabupaten Hulu Tengah (2011). Amanat/mandat/rekomendasi tersebut disetujui dan ditandatangani bersama oleh wakil-wakil peserta 13 kabupaten/kota Kalimantan Selatan.

B. Maksud dan Tujuan Kegiatan berupa acara sastra, seni dan budaya berskala Provinsi Kalimantan Selatan. Bertujuan meningkatkan apresiasi masyarakat Kota Banjarmasin, khususnya, dan Kalimantan Selatan, umumnya, terhadap sastra, seni dan budaya.

C. Sasaran Meningkatkan kualitas dan produktifitas karya sastra, seni dan budaya melalui lomba, dialog, sarasehan, diskusi, penerbitan buku hasil lomba dan gelar sastra. Siswa SLTP/SLTA dan guru kesenian/guru mata pelajaran Bahasa Indonesia Kota Banjarmasin dapat lebih mengenal dan berinteraksi dengan sastrawan/budayawan 13 kabupaten/kota Kalimantan Selatan yang keberadaannya tidak banyak diketahui pendidik beserta anak didiknya, akibat kurikulum pendidikan yang tidak mengajarkan pengetahuan tentang karya sastrawan Indonesia di daerah.

D. Bentuk Kegiatan Lomba Cipta Puisi Nasional ASKS IX. Lomba Mengarang Cerpen Nasional ASKS IX. Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) Kategori Pelajar, Mahasiswa dan Umum Kalimantan Selatan. Penerbitan Buku Kumpulan Puisi, Cerpen dan Ulasan Sastra Pemenang Lomba. Penerbitan Buku Kumpulan Puisi dan Cerpen 30 Sastrawan Kalimantan Selatan. Sastrawan Masuk Sekolah (SMS): Apresiasi Sastra di SLTP/SLTA Kota Banjarmasin. Sarasehan Puisi, Cerpen dan Ulasan Sastra Pemenang Lomba. Gelar Sastra Kalimantan Selatan. Sidang Pleno ASKS IX.

E. Materi Kegiatan Lomba Cipta Puisi Nasional ASKS IX Lomba Cipta Puisi Nasional ASKS IX dimulai sejak diumumkan, ditutup 20 Juli 2012.

Setelah lomba ditutup, rapat pertama (penyerahan puisi yang telah disortir kepada) Dewan Juri dilaksanakan Minggu, 22 Juli 2012, Pukul 16.00 WITA. Jumat, 27 Juli 2012, Pukul 16.00 WITA, Dewan Juri menetapkan puisi pemenang.Dewan Juri: Eko Suryadi WS, Micky Hidayat, Roeck Syamsuri Sabri. Lomba Mengarang Cerpen Nasional ASKS IX Lomba Mengarang Cerpen Nasional ASKS IX dimulai sejak diumumkan, ditutup 20 Juli 2012. Setelah lomba ditutup, rapat pertama (penyerahan cerpen yang telah disortir kepada) Dewan Juri dilaksanakan Minggu, 22 Juli 2012, Pukul 16.00 WITA. Jumat, 27 Juli 2012, Pukul 16.00 WITA, Dewan Juri menetapkan cerpen pemenang. Dewan Juri: Burhanuddin Soebely, Jamal T. Suryanata, Sandi Firly.

Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) Kategori Pelajar, Mahasiswa dan Umum Kalimantan Selatan Sejak dasawarsa lalu hingga kini telah terbit puluhan judul buku kumpulan puisi, cerpen, novel dan drama (berbahasa Indonesia maupun berbahasa Banjar) karya sastrawan Indonesia di Kalimantan Selatan, diterbitkan oleh penerbit lokal/nasional, sebagai hasil sayembara, atau terbit atas prakarsa pribadi penulisnya. Beberapa di antaranya ada yang diulas sekilas di rubrik sastra media cetak lokal, tapi hingga kini belum ada upaya signifikan untuk mengkaji, menelaah dan mengulas buku-buku sastra tersebut secara komprehensif — agar apresiasi terhadap sastra Indonesia di Kalimantan Selatan lebih terukur. Untuk itu, diadakan Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) Kategori Pelajar, Mahasiswa dan Umum Kalimantan Selatan, dengan daftar judul buku pilihan sebagai bahan ulasan.

LMKS Pelajar, Mahasiswa dan Umum Kalimantan Selatan dimulai sejak diumumkan, ditutup 20 Juli 2012. Setelah lomba ditutup, rapat pertama (penyerahan naskah yang telah disortir kepada) Dewan Juri dilaksanakan Minggu, 22 Juli 2012, Pukul 16.00 WITA. Jumat, 27 Juli 2012, Pukul 16.00 WITA, Dewan Juri menetapkan nominasi pemenang. Sebelum pemenang disahkan, panitia akan mengundang nominator tiga kategori lomba tersebut untuk presentasi di depan Dewan Juri, di tempat dan waktu tersendiri. Nominator yang absen akan didiskualifikasi.

Dewan Juri: Rustam Effendi, Sainul Hermawan, Syarifuddin R. Penerbitan Buku Kumpulan Puisi, Cerpen dan Ulasan Sastra Pemenang Lomba 6 Puisi Terbaik dan 20 Puisi Nominasi (nonperingkat, tanpa hadiah) Lomba Cipta Puisi Nasional ASKS IX, 6 Cerpen Terbaik Lomba Mengarang Cerpen Nasional ASKS IX dan 9 Ulasan Sastra Terbaik LMKS Kategori Pelajar, Mahasiswa dan Umum Kalimantan Selatan akan dibukukan.

Penerbitan Buku Kumpulan Puisi dan Cerpen 30 Sastrawan Kalimantan Selatan Melalui sistem seleksi oleh kurator, puisi dan cerpen 30 sastrawan Kalimantan Selatan terpilih akan dibukukan. Pengumpulan puisi, cerpen, dan proses seleksi berlangsung sampai dengan 20 Juli 2012. Kurator/Editor: Micky Hidayat, Hajriansyah, Y.S. Agus Suseno.

Sastrawan Masuk Sekolah (SMS): Apresiasi Sastra di SLTP/SLTA Kota Banjarmasin Penyair/sastrawan peserta ASKS IX 13 kabupaten/kota Kalimantan Selatan akan berbagi ilmu dan pengalaman dengan siswa di sekolah. Di saat bersamaan, Sabtu, 15 September 2012, Pukul 08.30 WITA s.d. 12.00 WITA, mereka akan melakukan apresiasi sastra: berceramah, membacakan karya, menginformasikan perkembangan sastra (tulis modern maupun sastra daerah Banjar) Indonesia terkini di Kalimantan Selatan; menyampaikan proses kreatif, teknik baca puisi, kiat menulis puisi, cerpen, novel, cara menerbitkan/memublikasikan karya, dan bertanya jawab dengan siswa SLTP/SLTA Kota Banjarmasin.

Sarasehan Puisi, Cerpen dan Ulasan Sastra Pemenang Lomba Pemenang Lomba Cipta Puisi Nasional ASKS IX, Lomba Mengarang Cerpen Nasional ASKS IX dan LMKS Kategori Pelajar, Mahasiswa dan Umum Kalimantan Selatan akan diundang untuk menerima hadiah dan menjadi peserta aktif seluruh kegiatan, termasuk sarasehan sastra bersama dewan juri bidang lomba bersangkutan. Narasumber: Eko Suryadi WS, Micky Hidayat, Roeck Syamsuri Sabri, Burhanuddin Soebely, Jamal T. Suryanata, Sandi Firly, Rustam Effendi, Sainul Hermawan, Syarifuddin R. Gelar Sastra Kalimantan Selatan Dikoordinir oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bersama Dewan Kesenian dan komunitas sastra masing-masing, Tim Kesenian 13 kabupaten/kota menampilkan gelar sastra, baik dalam bentuknya yang modern (baca puisi perorangan, pergelaran sastra, musikalisasi puisi) maupun tradisional (basyair, madihin, baturai pantun,balamut). Penampilan bersifat eksibisi (nonlomba), durasi per kabupaten/kota 20 menit.

Sidang Pleno ASKS IX Sastrawan, budayawan, pejabat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bersama pengurus Dewan Kesenian seluruh kabupaten/kota mendiskusikan isu-isu aktual tentang seni, sastra dan budaya, menyampaikan seruan/maklumat/resolusi ke publik; menandatangani dan menyerahkan amanat/mandat/rekomendasi kepada pelaksana ASKS X (2013) dan ASKS XI (2014). Pimpinan Sidang: Eko Suryadi WS, HE. Benyamine, Syarkian Noor Hadie.

F. Tema Kegiatan Kegiatan bertema “Di Kota Seribu Sungai, Seni Budaya Kita Kayuh Baimbai”. G. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kegiatan dilaksanakan di panggung terbuka, tepi Sungai Martapura (depan Balai Kota Banjarmasin, Jalan R.E. Martadinata), dan di Gedung Balairung Sari Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan, Jalan Brigjend. H. Hassan Basry, Banjarmasin, 14-16 September 2012.

LOMBA CIPTA PUISI NASIONAL ASKS IX

1) Lomba terbuka untuk warga negara Indonesia (WNI), di manapun berada. Puisi ditulis dalam bahasa Indonesia, diketik 1,5 spasi dalam format kuarto (A4), dengan huruf Times New Roman, font 12, tema bebas.

2) Peserta boleh mengirim lebih dari 1 judul puisi. Peserta dapat mengirim dengan dua cara (pilih salah satu):

(a) bagi yang mengirimkan print out-nya, tiap 1 judul puisi dikirim 4 rangkap

(1 naskah asli, 3 fotokopi); masukkan sampul tertutup, di kiri atas amplop tulis “Lomba Cipta Puisi Nasional ASKS IX”, dikirim lewat pos ke Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kota Banjarmasin, Jalan Pangeran Hidayatullah (Lingkar Dalam Banua Anyar) Banjarmasin. Tulis alamat lengkap, e-mail, nomor telepon, biodata penulis dan fotokopi kartu identitas yang masih berlaku. Sertakan CD berisi naskah puisi tersebut.

(b) Puisi (dan kelengkapan syarat lainnya) juga dapat dikirim (dalam 1 folder) ke e-mail asksix.ciptapuisi@gmail.com

3) Puisi harus karya asli, bukan saduran, jiplakan, terjemahan (ditulis dalam surat pernyataan) dan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, di media manapun.

4) Lomba dimulai sejak diumumkan, ditutup 20 Juli 2012, Pukul 12.00 WITA. Dewan Juri akan menetapkan Juara I, Juara II, Juara III; Juara Harapan I, Juara Harapan II dan Juara Harapan III. Selain piagam penghargaan, pemenang akan mendapat hadiah uang tunai, total Rp 7,5 juta. 6 Puisi Terbaik dan 20 Puisi Nominasi (nonperingkat, tanpa hadiah) akan dibukukan bersama 6 Cerpen Terbaik Lomba Mengarang Cerpen Nasional ASKS IX dan 9 Ulasan Sastra Terbaik LMKS Kategori Pelajar, Mahasiswa dan Umum Kalimantan Selatan.

5) 6 (enam) pemenang utama akan diundang untuk menerima hadiah dan menjadi peserta ASKS IX. Akomodasi dan konsumsi selama acara di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, disediakan.

6) Hal-hal yang belum jelas dapat ditanyakan melalui contact person 085249954849, 082159630379. LOMBA MENGARANG CERPEN NASIONAL ASKS IX

1) Lomba terbuka untuk warga negara Indonesia (WNI), di manapun berada. Cerpen ditulis dalam bahasa Indonesia, diketik 1,5 spasi dalam format kuarto (A4), dengan huruf Times New Roman, font 12, panjang 5-10 halaman (1500-3000 kata), tema bebas.

2) Peserta boleh mengirim lebih dari 1 judul cerpen. Peserta dapat mengirim dengan dua cara (pilih salah satu):

(a) bagi yang mengirimkan print out-nya, tiap 1 judul cerpen dikirim 4 rangkap (1 naskah asli, 3 fotokopi); masukkan sampul tertutup, di kiri atas amplop tulis “Lomba Mengarang Cerpen Nasional ASKS IX”, dikirim lewat pos ke Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kota Banjarmasin, Jalan Pangeran Hidayatullah (Lingkar Dalam Banua Anyar) Banjarmasin. Tulis alamat lengkap, e-mail, nomor telepon, biodata penulis dan fotokopi kartu identitas yang masih berlaku. Sertakan CD berisi naskah cerpen tersebut.

(b) Cerpen (dan kelengkapan syarat lainnya) juga dapat dikirim (dalam 1 folder) ke e-mail asksix.mengarangcerpen@gmail.com

3) Cerpen harus karya asli, bukan saduran, jiplakan, terjemahan (ditulis dalam surat pernyataan) dan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, di media manapun.

4) Lomba dimulai sejak diumumkan, ditutup 20 Juli 2012, Pukul 12.00 WITA. Dewan Juri akan menetapkan Juara I, Juara II, Juara III; Juara Harapan I, Juara Harapan II dan Juara Harapan III. Selain piagam penghargaan, pemenang akan mendapat hadiah uang tunai, total Rp 7,5 juta. 6 Cerpen Terbaik akan dibukukan bersama 6 Puisi Terbaik dan 20 Puisi Nominasi Lomba Cipta Puisi Nasional ASKS IX dan 9 Ulasan Sastra Terbaik LMKS Kategori Pelajar, Mahasiswa dan Umum Kalimantan Selatan.

5) 6 (enam) pemenang utama akan diundang untuk menerima hadiah dan menjadi peserta ASKS IX. Akomodasi dan konsumsi selama acara di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, disediakan.

6) Hal-hal yang belum jelas dapat ditanyakan melalui contact person 085249954849, 082159630379. LOMBA MENGULAS KARYA SASTRA (LMKS) KATEGORI PELAJAR, MAHASISWA DAN UMUM KALIMANTAN SELATAN

1) Lomba terbuka untuk pelajar, mahasiswa dan umum, berdomisili di Provinsi Kalimantan Selatan. Ulasan ditulis dalam bahasa Indonesia, diketik 1,5 spasi dalam format kuarto (A4), dengan huruf Times New Roman, font 12, panjang 5-10 halaman (1500-3000 kata).

2) Ulasan berupa tinjauan kritis, analitis, dalam bentuk esai, resensi, artikel atau karya ilmiah; membahas salah satu buku karya sastrawan Indonesia di Kalimantan Selatan (daftar terlampir). Bagi yang tidak memiliki, buku yang akan diulas bisa diperoleh/dibeli dengan menghubungi nomor telepon yang tercantum di belakang nama penulis/tahun penerbitan. Peserta juga dapat menghubungi panitia dengan mengganti biaya fotokopinya. Ulasan harus karya asli, bukan saduran, jiplakan, terjemahan (ditulis dalam surat pernyataan) dan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun, di media manapun.

3) Peserta boleh mengirim lebih dari 1 ulasan. Peserta dapat mengirim dengan dua cara (pilih salah satu):

(a) Bagi yang mengirimkan print out-nya, tiap 1 ulasan dikirim 4 rangkap (1 naskah asli, 3 fotokopi); masukkan sampul tertutup, di kiri atas amplop tulis “LMKS Kalimantan Selatan” (cantumkan kategori), dikirim lewat pos atau diantar langsung (pada hari/jam kerja) ke Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kota Banjarmasin, Jalan Pangeran Hidayatullah (Lingkar Dalam Banua Anyar) Banjarmasin. Tulis alamat lengkap, e-mail, nomor telepon dan biodata penulis. Untuk pelajar, lampirkan surat keterangan kepala sekolah, fotokopi KTM untuk mahasiswa dan fotokopi kartu identitas yang masih berlaku untuk peserta umum. Sertakan CD berisi naskah ulasan tersebut.

(b) Naskah ulasan (dan kelengkapan syarat lainnya) juga dapat dikirim (dalam 1 folder) ke e-mail asksix.lmks@gmail.com

4) Lomba dimulai sejak diumumkan, ditutup 20 Juli 2012, Pukul 12.00 WITA. Sebelum pemenang disahkan, panitia akan mengundang nominator untuk presentasi di hadapan Dewan Juri, di waktu dan tempat tersendiri. Nominator yang absen akan didiskualifikasi. Dewan Juri akan menetapkan Juara I, Juara II dan Juara III untuk setiap kategori. 9 (sembilan) pemenang utama akan diundang untuk menerima hadiah dan menjadi peserta ASKS IX. Akomodasi dan konsumsi selama acara di Kota Banjarmasin, disediakan.

5) Selain piagam penghargaan, pemenang akan mendapat hadiah uang tunai, total Rp 10 juta. 9 Ulasan Sastra Terbaik akan dibukukan bersama 6 Puisi Terbaik dan 20 Puisi Nominasi Lomba Cipta Puisi Nasional ASKS IX dan 6 Cerpen Terbaik Lomba Mengarang Cerpen Nasional ASKS IX.

6) Hal-hal yang belum jelas dapat ditanyakan melalui contact person 085249954849, 082159630379. GELAR SASTRA KALIMANTAN SELATAN

1) Tim Kesenian kabupaten/kota dipersilakan menampilkan apa pun ragam dan bentuk gelar sastra yang dikehendaki. Pilihan terhadap jenis kesenian yang ingin ditampilkan dan penunjukan/pemilihan anggota Tim Kesenian menjadi kewenangan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bersama Dewan Kesenian dan komunitas sastra kabupaten/kota masing-masing.

2) Tim Kesenian kabupaten/kota akan difasilitasi untuk menampilkan gelar sastra, baik dalam bentuknya yang modern (baca puisi perorangan, pergelaran sastra, musikalisasi puisi) maupun tradisional (basyair, madihin, baturai pantun,balamut). Penampilan bersifat eksibisi (nonlomba), durasi 20 menit.

3) Tim Kesenian yang menyajikan seni kolektif (pergelaran sastra, musikalisasi puisi, madihin berpasangan, basyair berpasangan, baturai pantun) menyiapkan sendiri peralatan yang diperlukan (personel maksimal 10 orang). Panitia hanya memfasilitasi tempat pertunjukan.

4) Pimpinan/perwakilan Tim Kesenian kabupaten/kota melaporkan bentuk kesenian, daftar nama dan jumlah anggota yang akan ditampilkan, menghadiri temu teknis dan orientasi tempat di Gedung Balairung Sari Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan, Jalan Brigjend. H. Hassan Basry, Banjarmasin, Sabtu, 15 September 2012, Pukul 08.30-12.00 WITA.

5) Tim Kesenian seluruh kabupaten/kota diharapkan hadir dan tampil tepat waktu, sesuai dengan jadwal kegiatan dan urutan penampilan.

6) Hal-hal yang belum jelas dapat ditanyakan melalui contact person 082159630379, 085249954849.

JADWAL ACARA ARUH SASTRA KALIMANTAN SELATAN IX Banjarmasin, 14-16 September 2012

Jumat, 14 September 2012 09.00-15.00 WITA

Registrasi dan penempatan peserta (check in) – hotel/penginapan 15.00-17.00 WITA

Temu teknis Sastrawan Masuk Sekolah (SMS): Apresiasi Sastra di SLTP/SLTA Kota Banjarmasin (Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan, Jalan Brigjend. H. Hassan Basry, Banjarmasin) 19.00-23.00 WITA

Pembukaan (panggung terbuka, pinggir Sungai Martapura, depan Balai Kota Banjarmasin, Jalan R.E. Martadinata) Sambutan-sambutan Peluncuran (launching) buku sastra oleh Wali Kota Banjarmasin, sambutan, sekaligus membuka secara resmi ASKS IX Penyerahan hadiah kepada Juara Lomba Cipta Puisi Nasional ASKS IX, Juara Lomba Mengarang Cerpen Nasional ASKS IX dan Juara Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) Kategori Pelajar, Mahasiswa dan Umum Kalimantan Selatan Penyerahan buku ASKS IX kepada wakil-wakil peserta 13 kabupaten/kota Gelar Sastra Kabupaten Hulu Sungai Selatan Gelar Sastra Kabupaten Kotabaru Gelar Sastra Kabupaten Batola Penutup

Sabtu, 15 September 2012 08.30-12.00 WITA

Sastrawan Masuk Sekolah (SMS): Apresiasi Sastra di SLTP/SLTA Kota Banjarmasin

SMA Negeri 1 Banjarmasin

SMA Negeri 2 Banjarmasin

SMA Negeri 7 Banjarmasin

SMP Negeri 1 Banjarmasin

SMP Negeri 2 Banjarmasin

SMP Negeri 9 Banjarmasin

MTsN Mulawarman Banjarmasin

SMK Negeri 1 Banjarmasin

MAN 2 Model Banjarmasin

SMA Muhammadiyah 1 Banjarmasin

SMA KORPRI Banjarmasin

SMA Sabilal Muhtaddin Banjarmasin

08.30-12.00 WITA Orientasi tempat Gelar Sastra Kalimantan Selatan (Gedung Balairung Sari Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan, Jalan Brigjend. H. Hassan Basry Banjarmasin)

13.30-18.00 WITA Sarasehan Puisi, Cerpen dan Ulasan Sastra Pemenang Lomba ASKS IX (Gedung Balairung Sari Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan, Jalan Brigjend. H. Hassan Basry Banjarmasin) Narasumber: Eko Suryadi WS Micky Hidayat Roeck Syamsuri Sabri Burhanuddin Soebely Jamal T. Suryanata Sandi Firly Rustam Effendi Sainul Hermawan Syarifuddin R. Pemandu: Nailiya Nikmah JKF 20.00-23.00 WITA

Gelar Sastra Kalimantan Selatan (Gedung Balairung Sari Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan, Jalan Brigjend. H. Hassan Basry Banjarmasin)

Kabupaten Tabalong

Kabupaten Balangan

Kabupaten Hulu Sungai Tengah

Kabupaten Hulu Sungai Utara

Kabupaten Tapin

Kabupaten Tanah Bumbu

Kabupaten Tanah Laut

Kabupaten Banjar Kota Banjarbaru

Kota Banjarmasin

Minggu, 16 September 2012

08.30-12.00 WITA Sidang Pleno ASKS IX (Gedung Balairung Sari Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan, Jalan Brigjend. H. Hassan Basry Banjarmasin) Pimpinan Sidang: Eko Suryadi WS, HE. Benyamine, Syarkian Noor Hadie 12.00-13.30 WITA ISHOMA 13.30-14.30 WITA

Penutupan 18.00- WITA Peserta check out

Daftar Pilihan Buku Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) Kategori Pelajar, Mahasiswa dan Umum Kalimantan Selatan

Kumpulan Puisi Silir Pulau Dewata, Drs. Akhmad Tajuddin, M.Si [2003] (082158919945)

La Ventre de Kandangan, Mosaik Sastra HSS 1937-2003 [2004] (08125021804)

Tanah Perjanjian, Ajamuddin Tifani [2005] (081348829145)

Di Batas Laut, Eko Suryadi WS [2005] (085821035088)

Nyanyian Seribu Burung, Arsyad Indradi [2006] (085821035088)

Garunum, Antulugi Puisi Basa Banjar, Hamami Adaby, Arsyad Indradi, Ersis Warmansyah Abbas, Rudy Resnawan, Dewa Pahuluan [2006]

Kaduluran, Hamami Adaby [2006]

Jejak-Jejak Angin, Kumpulan Puisi Hajriansyah dan M. Nahdiansyah Abdi [2007] (085248955593)

Mahligai Junjung Buih, Antologi Puisi dan Cerpen Sastrawan Hulu Sungai Utara, ASKS IV Kabupaten Hulu Sungai Utara [2007]

Meditasi Rindu, Sajak-sajak Pilihan 1980-2008Micky Hidayat [2008] (082149652892)

Lelaki Kembang Batu, Eza Thabry Husano [2008]

Tarian Cahaya di Bumi Sanggam, Bunga Rampai Puisi ASKS V Kabupaten Balangan [2008] (085821035088)

Bertahan di Bukit Akhir, Antologi Puisi Penyair Hulu Sungai Tengah [2008] (081351128514)

Di Jari Manismu Ada Rindu, Hamami Adaby [2008] Pistol Air, M. Nahdiansyah Abdi [2008] (085248955593)

Malaikat Hutan Bakau [2008] Pewaris Tunggal Istana Pasir, M. Nahdiansyah Abdi [2009] (081348029470]

Badai Gurun dalam Darah, Ibramsyah Amandit [2009] (081349503031)

Sebatung, Melukis dalam Kaca, M. Sulaiman Najam [2009] (0811512459)

Debur Ombak Guruh Gelombang, Sajak-sajak 1993-2002 Jamal T. Suryanata [2009] (085248296080)

Istana Daun Retak, Ali Syamsuddin Arsy [2010] (081351696235)

Elegi Negeri Seribu Ombak, Eko Suryadi WS [2010] (0811512459)

Konser Kecemasan, Sajak-sajak Peduli Lingkungan Hidup Penyair Kalimantan Selatan [2010] (082149652892)

Petualang Tanah Kering, Kumpulan Puisi Penyair Tapin [2010] (082158949883)

Syair Rumah, Roeck Syamsuri Sabri [2010] (08125021298)

Menyampir Bumi Leluhur, Bunga Rampai Puisi ASKS VII Kabupaten Tabalong [2010] (081351574466)

Badai 2011, Hamami Adaby [2011]

Doa Banyu Mata, Kumpulan Puisi Bahasa Banjar Abdurrahman El Husaini [2011] (081349551589)

Pendulang, Hutan Pinus, dan Hujan [2011] (085821035088)

Tragedi Buah Manggis, Antologi Puisi Penyair Tanah Bumbu [2011] (085821035088)

Seloka Bisu Batu Benawa, Bunga Rampai Puisi ASKS VIII Kabupaten Hulu Sungai Tengah [2011] (081351128514)

Kumpulan Cerpen Galuh, Sakindit Kisdap Banjar, Jamal T. Suryanata [2005] (085248296080)

Bulan di Pucuk Cemara, Kumpulan Cerpen Jamal T. Suryanata [2006] (085248296080)

Kau Tidak Akan Pernah Tahu, Rahasia Sedih Tak Bersebab, Antologi Sastra Pemenang Lomba Penulisan Puisi dan Cerpen ASKS III 2006 [2006]

Orkestra Wayang, Antologi Cerpen Sastrawan Hulu Sungai Selatan [2007] (085249954849)

Dongeng Kesetiaan, Ratih Ayuningrum [2008] (085251268654)

Nyanyian Tanpa Nyanyian, Kumpulan Cerita Pendek Pengarang Perempuan Kalimantan Selatan [2008] (085248955593]

Perempuan yang Memburu Hujan, Harie Insani Putra dan Sandi Firly [2008] (08125020503)

Darah Penanda, Antologi Sastra Pemenang Lomba Menulis Puisi dan Cerpen Dewan Kesenian Kota Banjarbaru [2008]

Angin Besar Menggerus Ladang-Ladang Kami, Kumpulan Cerpen Hajriansyah [2009] (085248955593)

Bintang Kecil di Langit yang Kelam, Kumpulan Cerita Pendek Jamal T. Suryanata [2009] (085248296080)

Magnet Baitullah, Antologi Cerpen dari Tanah Suci M. Hasbi Salim [2010] (085214751701)

Rindu Rumpun Ilalang, Nailiya Nikmah JKF [2010] (08125109312)

Pelajaran Bahasa, Kumpulan Cerita Pendek Sainul Hermawan [2010] (081348905090)

Manyanggar Banua, Bunga Rampai Puisi dan Cerita Pendek Bahasa Banjar Pemenang Lomba ASKS VII Kabupaten Tabalong [2010] (081351574466)

Pelangi di Pelabuhan, Antologi Cerpen FLP Kalimantan Selatan [2011] (08125109312)

Balian Jazirah Anak Ladang, Bunga Rampai Puisi dan Cerita Pendek Pemenang Lomba ASKS VIII Kabupaten Hulu Sungai Tengah [2011] (081351128514)

Rahasia Perkawinan Sang Bintang, Aliansyah Jumbawuya (2010) Novel Palas, Aliman Syahrani [2004] (08125060259)

Bahara Mingsang Idang Siritan, Burhanuddin Soebely [2005] (08125021804)

Gadis Dayak, Setia Budhi (2006)

Jazirah Cinta, Randu Alamsyah (2006)

Rumah Debu, Sandi Firly [2010] (08125020503)

Seteguk Rindu, Hamami Adaby (2011)

Drama Bulan Emas Ular Betina, Lima Drama Adjim Arijadi [2010] (081348829145)

Genta Panjang Perang Banjar, Enam Drama Perang Banjar Adjim Arijadi [2010] (081348829145)

Putri Banjar Di Sangarasi (Barito Timur)

Image

Kalau kita bepergian dari Banjarmasin ke Tamiang Layang dan melintasi Desa Jaar, bangunan itu tidak tampak dari jalan raya. Sebuah bangunan sekolah dasar akan menghalangi pandangan kita. Menurut tetuha adat di Desa Jaar, di dalam bangunan berbentuk rumah adat Banjar itu terdapat pusara Putri Mayang Sari. Ia adalah putri Sultan Banjar yang pernah menjadi pemimpin di Tanah Dayak Ma’anyan. Karena itu bagi orang Dayak Maanyan, bangunan unik itu mempunyai arti dan makna tersendiri.

Tulisan ini bertujuan memaparkan hubungan antara Urang Banjar dan Urang Ma’anyan yang bersumber dari tradisi lisan.

Putri Mayang Sari Menurut sejarah lisan orang Dayak Ma’anyan, Mayang Sari yang adalah putri Sultan Suriansyah yang bergelar Panembahan Batu Habang dari istri keduanya, Noorhayati. Putri Mayang Sari dilahirkan di Keraton Peristirahatan Kayu Tangi pada 13 Juni 1858, yang dalam penanggalan Dayak Ma’anyan disebut Wulan Kasawalas Paras Kajang Mamma’i. Sedangkan Noorhayati sendiri, menurut tradisi lisan orang Dayak Ma’anyan adalah perempuan Ma’anyan cucu dari Labai Lamiah, tokoh mubaligh Suku Dayak Ma’anyan. 

Putri Mayang Sari diserahkan oleh Sultan Suriansyah kepada Uria Mapas, pemimpin dari tanah Ma’anyan di wilayah Jaar Sangarasi. Dituturkan, dalam kesalahpahaman Pangeran Suriansyah membunuh saudara Uria Mapas yang bernama Uria Rin’nyan yaitu pemimpin di wilayah Hadiwalang yang sekarang bernama Dayu. Akibatnya, Sultan Suriansyah terkena denda Adat Bali, yaitu selain membayar sejumlah barang adat juga harus menyerahkan anaknya sebagai ganti orang yang dibunuhnya.

Setelah Uria Mapas meninggal dunia, penduduk setempat mengangkat Putri Mayang  Sari untuk memimpin daerah Sangarasi yang sekarang bernama Ja’ar –lima kilometer dari Tamiang Layang. Kepemimpinan Mayang Sari sangat diakui masyarakat setempat, karena selain putri dari seorang Sultan Banjar, ia adalah saudara angkat Uria Mapas Negara. Dalam tradisi Dayak Ma’anyan, Putri Mayang Sari dicitrakan sebagai perempuan berambut panjang dan berparas cantik. Namun bukan hanya kecantikan yang mempesona dimilikinya, tetapi kemampuan menyejahterakan rakyat di wilayah yang dipimpinnya. Dituturkan, pada masa hidupnya Putri Mayang Sari tidak pernah diam. Ia rajin mengadakan kunjungan ke desa untuk mengetahui kehidupan rakyat yang sebenarnya, dan secara khusus untuk mengetahui bagaimana ketahanan pangan masyarakat. Ia selalu mengawasi bagaimana hasil panen masyarakat. Untuk meningkatkan hasil panen, Putri Mayang Sari menganjurkan agar penduduk menanam padi di daerah berair, karena hasil panennya lebih baik daripada di daerah kering (tegalan).

Rute kunjungan Putri Mayang Sari setiap tahun adalah melewati daerah Timur yakni Uwei, Jangkung, Waruken, Tanjung. Kemudian daerah Barat yaitu Tangkan, Serabun, Beto, Dayu, Patai, Harara dan kembali ke Jaar Sangarasi. Menurut kepercayaan orang Dayak Ma’anyan, daerah atau wilayah yang dikunjungi atau dilewati Putri Mayang Sari itu selalu mendapat berkah-keberuntungan, misalnya pohon buah berbuah lebat. Konon, buah langsat di daerah Tanjung yang terkenal manis dan disenangi banyak orang adalah karena daerah Tanjung adalah tempat singgah Putri Mayang Sari.

Setelah seharian  menempuh perjalanan, seperti biasa Puteri Mayang Sari duduk diserambi depan tempat tinggalnya.  Saat menikmati istirahat melintaslah serombongan burung sejenis burung betet diatas kepala puteri lalu bersamaan dengan itu jatuhlah kembang kamboja berwarna kuning dipangkuannya. Dengan rasa penuh heran dan kaget dipungutlah bunga kamboja itu lalu diselipkan pada rambutnya yang panjang terurai sebagai hiasan. Keesokkan harinya puteri Mayang Sari jatuh sakit dan tiga hari kemudian puteri meninggal yakni pada hari Rabu tanggal 15 Oktober 1615 atau Sa’ban 1024 H; dalam hitungan Ma’anyan ‘Wulan Katiga Paras Kanjang Minau’.

Puteri Mayang Sari lahir di keraton peristirahatan di Kayu Tangi yakni pada Rabu tanggal 13 Juni 1585 atau 6 Jumadil Awal 993 H ; dalam hitungan Ma’anyan ‘Wulan Kasawalas Paras Kanjang Mam’mai.

Kendati beragama Islam, dalam menjalankan pemerintahannya Putri Mayang Sari menggunakan sistem mantir epat pangulu isa yaitu sistem pemerintahan tradisional Dayak Ma’anyan. Dalam pola kepemimpinan ini, satu wilayah ditangani empat pemimpin (mantir) dan satu pengulu. Empat mantir mengurus masalah pemerintahan, sedangkan pengulu mengatur seluk beluk Hukum Adat. Dalam pemerintahannya memang ada dua hal yang diprioritaskan, yaitu terpenuhnya kebutuhan pangan rakyat dan tegaknya Hukum Adat yang bagi orang Dayak Ma’anyan adalah tata aturan kehidupan.

 

Setelah mengalami sakit selama tiga hari, pada 15 Oktober 1615 atau dalam penanggalan Dayak Ma’anyan disebut Wulan Katiga Paras Kajang Minau, Putri Mayang sari wafat. Karena kecintaan rakyat kepadanya, jasadnya tidak langsung dikuburkan, tetapi disemayamkan terlebih dahulu di dalam rumah hingga kering. Setelah mengering, karena cairan dari mayat disalurkan ke dalam tempayan, jasad Putri Mayang dibawa ke seluruh daerah agar semua rakyat mendapat kesempatan memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin mereka yang telah meninggal dunia. Akhirnya, jenazah Putri disemayamkan di Sangarasi yaitu wilayah Jaar sekarang.

Urang Banjar dan Ma’anyan Tradisi lisan orang Dayak Ma’anyan memang banyak bertutur tentang relasi antara Urang Banjar dan Urang Ma’anyan. Misalnya dituturkan, orang Ma’anyan pada mulanya adalah penghuni Kayu Tangi. Karena itu, orang Ma’anyan, dalam bahasa ritual wadian, menyebut dirinya sebagai anak nanyu hengka Kayu Tangi. Hal itu untuk menunjukkan, sebelum hidup terserak di beberapa wilayah sekarang, mereka tinggal di Kayu Tangi, yaitu wilayah yang sekarang berkembang menjadi Kota Banjarmasin.

Dalam Sejarah Banjar (2003: 36-7) dituliskan, sebelum berdirinya Kesultanan Banjarmasin pada 1526, bahkan sebelum adanya Negara Dipa dan Negara Daha sebagai cikal-bakal Kesultanan Banjarmasin, berdiri satu negara etnik orang Ma’anyan yang bernama Nansarunai. Karena kuatnya usak jawa atau Jawa yang merusak yaitu gempuran dari Majapahit, mereka harus pergi dari Nansarunai.

Juga dituturkan tentang seorang tokoh bernama Labai Lamiah. Konon, ia adalah orang Dayak Ma’anyan pertama yang menjadi muallaf dan mubaligh. Ia berdakwah di wilayah Nagara yang masyarakatnya pada waktu itu adalah campuran antara suku Dayak Ma’anyan dan mantan prajurit Majapahit yang masih memeluk agama Hindu Syiwa. Labai Lamiah berhasil mengislamkan orang-orang Ma’anyan yang ada di Banua Lawas atau sekarang disebut Pasar Arba, tidak jauh dari Kalua. Akibatnya, Balai Adat orang Ma’anyan di tempat itu berubah fungsi menjadi Masjid. Hingga sekarang, di halaman Masjid itu masih dapat ditemukan beberapa guci yang menjadi simbol keberadaan orang Ma’anyan.

Orang Dayak Ma’anyan yang memeluk Islam disebut jari hakey. Pada awalnya, sebutan hakey ditujukan kepada utusan Raja Banjar yang hadir dalam Ijambe (upacara kematian). Ketika mereka dengan sopan menolak memakan daging babi yang dihidangkan dan menjelaskan alasannya, orang Ma’anyan berkata: “O … hakahiye sa” (o … begitukah). Berdasarkan ucapan itu, semua orang Banjar, muslim dan orang Dayak Ma’anyan yang beragama Islam disebut hakey. Adanya kaum yang bahakey membuat orang Ma’anyan tidak lagi satu warna. Mereka yang bertahan dengan adat, pergi meninggalkan wilayah Kerajaan Banjar mencari tempat baru. Dipimpin Uria Napulangit, mereka pergi ke dan menetap di tepi Sungai Siong di sebelah Barat Daya Tamiang Layang sekarang.

Namun rasa persaudaraan mereka dengan kerabat yang bahakey tetap terjalin. Hal itu tampak dengan dibangunnya Balai Adat yang dikhususkan untuk muslim, yang mereka sebut Balai Hakey. Bangunan ini dapat dilihat dalam upacara besar Dayak Ma’anyan seperti Ijambe (upacara pembakaran mayat), khususnya di masyarakat Paju Epat (nama wilayah empat kampung besar). Di Balai itu, masakan yang disajikan harus disembelih secara Islam oleh perwakilan yang beragama Islam.Hingga kini, Balai Hakey tetap didirikan oleh orang Dayak Ma’anyan setiap kali ada Ijambe. Balai yang kokoh, sekokoh sikap toleransi orang Ma’anyan.

Perekat Sosial Hikmat atau kearifan memang ada di mana-mana. Ia berseru di pinggir jalan memanggil orang untuk menghampirinya, demikian kata Penulis Amsal. Ia ada di mana saja termasuk di dalam tradisi lisan. Bagi masyarakat yang belum mengenal budaya tulis-menulis, tradisi lisan merupakan sarana untuk menyimpan sejarah silam kehidupan suku. Lebih dari itu, tradisi lisan juga sarana untuk menguraikan jati diri. Karena itu, dalam upacara penting misalnya Ijambe, tradisi lisan selalu dituturkan.

Paparan di atas memperlihatkan betapa dahsyatnya Urang Ma’anyan menguraikan jati dirinya ketika berhadapan dengan Urang Banjar. Tentu saja, hal itu dilakukan karena Banjar tidak sekadar identitas suku, tetapi juga identitas politik, sosial, ekonomi dan agama. Banjar sebagai identitas agama tampak dalam adagium ‘Banjar berarti Islam dan Islam berarti Banjar’.

Namun bagi orang Ma’anyan, adagium bersosok dingin itu tidak harus dikontestasikan. Tidak perlu jalan merah yang sarat amarah, apalagi pertumpahan darah. Bagi mereka, Banjar adalah hakey yaitu saudara mereka yang memeluk agama Islam. Tradisi lisan telah menjadi referensi kultural mereka untuk bersikap ramah kepada siapa pun, kendati berbeda agama dan keyakinan. Juga menjadi rujukan politik, ketika menerima seseorang yang tidak seagama dengan mereka untuk menjadi pemimpin mereka. Tradisi lisan telah menjadi sumber kearifan untuk merekatkan persaudaraan dan kekerabatan.

Tradisi lisan memang seumpama teks Kitab Suci, punya daya paksa yang tinggi namun cara kerjanya sangat halus sehingga tidak terasa sama sekali. Hal ini tampak dari berdirinya bangunan rumah adat Banjar yang adalah makam Putri Mayang Sari di Desa Jaar, Tamiang Layang, Kalteng. Mereka mendirikan bangunan itu berdasarkan tradisi lisan Putri Banjar di Tanah Ma’anyan. Lebih jauh lagi, tempat pemakaman Putri Mayang Sari itu baru saja dipugar oleh Pemkab Barito Timur. Ini petanda, sekarang pun beliau masih dihormati masyarakat setempat.

Secara fisik, bangunan itu adalah makam Putri Mayang Sari. Namun secara metafisik, bangunan itu adalah terusan batin persaudaraan yang menghubungkan Urang Dayak Ma’anyan dengan Urang Banjar. Juga menjadi media budaya dan sumber sejarah, di mana mereka dapat merunut benang merah kekerabatan dengan orang Banjar dan kemudian berkata: “Kalian bukan orang lain.”