malaikatpararoh

Peduli Seni Dan Budaya Lewat Tulisan

Mengembangkan Potensi Diri Melalui Penulisan Kreatif Sastra

1. Mengenali Diri

Penulis sastra memanfaatkan alam dengan segenap isi dan pasang surut kehidupan manusia menjadi sumber ide yang tak pernah kering. Dalam khazanah sastra, ketulusan hubungan cinta pria-wanita telah mengilhami sastrawan Cina untuk menuliskan episode Sam Pek-Ing Tay, dari Inggris roman   Romeo and Yuliet menjadi karya legendaris Shakespeare yang mampu menembus batas ruang, waktu, dan struktur; dari India, kisah klasik Rama dan Sinta memberi pengaruh dahsyat terhadap pandangan hubungan pria wanita, khususnya  pada bangsa Asia Tengah dan Tenggara. 

Kekuatan apakah yang terdapat dalam karya sastra, sehingga memberikan pengaruh yang luas pada manusia? Dalam sastra terdapat interpretasi pengarang  terhadap kehidupan yang mahaluas. Interpretasi pengarang berpijak pada ketulusan, kejujuran, dan kebenaran; yang maknanya seringkali menjadi samar-samar dalam realitas kehidupan,  justru dipertahankan oleh penulis sastra.  Sastra menjadi sebuah institusi yang masih memberi harapan bagi manusia untuk berbicara tentang realitas kehidupan yang hakiki. Realitas yang tidak berpijak pada gejala tampak, tetapi pada makna dari gejala yang tampak (Wijaya, 1992). Proses interpretasi membebaskan pengarang dari tekanan-tekanan emosi sehingga diperoleh penjernihan batin (katarsis).

Jabrohim,  Anwar, dan Sayuti (2003: 71–75) menyatakan bahwa karya sastra sebagai alat ekspresi membuka peluang terbentuknya pribadi yang kreatif. Pribadi yang kreatif ditandai oleh sejumlah ciri, yakni (1) memiliki sikap yang terbuka terhadap berbagai pengalaman baru, memiliki minat yang luas, dan responsif terhadap alfternatif baru; (2) memiliki fleksibilitas dalam berpikir atau memilih berbagai pendekatan dalam memecahkan masalah dengan tanpa mengabaikan tujuannya; (3) memiliki sikap terbuka atau bebas dalam mengemukakan pendapat , (4) memiliki kemampuan berimajinasi yang kuat untuk mencari alternatif baru; (5) memiliki perhatian terhadap kegiatan yang berhubungan dengan proses penciptaan; (6) memiliki keteguhan dalam menymapaikan pendapat atau pandangan; dan (7) memiliki sikap yang mandiri dalam mengmabil keputusan.

Penulis sastra melibatkan pembaca untuk memasuki sebuah model kehidupan yang dibangun secara kreatif. Penulis membangun sebuah wilayah budaya hasil interpretasi dari dunia di sekitarnya. Wilayah budaya tersebut ditampilkan dengan mengolah wacana sastra yang mampu membuka selubung realitas kehidupan dan memasuki wilayah makna yang sesungguhnya dengan menampilkan peristiwa, tokoh,  setting, dan semangat kemanusiaan yang menjadi oase bagi pengembara kerohanian, sehingga membuka peluang untuk perenungan -persoalan mendasar tentang manusia dan manusiaan.

Apabila seseorang sudah berkeputusan untuk memilih dunia penulisan sebagai media ekspresi, tugas awal yang harus segera dikerjakannya adalah mengenali diri sendiri. Pengenalan diri sendiri bertujuan untuk memahami potensi diri yang behubungan dengan prinsip-prinsip, cita-cita, obsesi, harapan, lingkungan, pengetahuan, dan kuantitas serta kualitas pengalaman hidup. Pemahaman terhadap diri sendiri merupakan landasan untuk menemukan perspektif dalam penulisan. Lazimnya setiap pribadi memiliki kecenderungan perspektif penulisan yang besifat personal, misalnya perspektif keagamaan, kemanusiaan, sosial, dan budaya.

Latihan 1

Jawablah pertanyaan berikut sesuai dengan kenyataan yangAnda alami!

Kenalkan, namaku …………………………………………………….., aku dilahirkan di ………………………………………… , pada tanggal ………………………………………………… Aku dibesarkan di tengah-tengah keluarga dengan agama ………………………………. dan latar bekang budaya ……………………………………………………………………  Dalam menjalani hidup ini aku berpegang pada sejumlah prinsip hidup, antara lain (1) ………………………………………………………………………………………………..,  (2) ………………………………………………………………………………………………………., dan  (3)   …………………………………………………………………………………………………… Pada  usiaku kini, cita-cita hidupku adalah …………………………………………………….

Hal yang tengah menjadi obsesi dalam hidupku adalah …………………………  …………… engalaman hidup yang pernah aku alami dan amat berguna dalam hidupku adalah ………………………………………………………………………………………….

Harapanku, pada masa-masa yang akan tiba hidupku akan menjadi lebih berarti, untuk itu hal yang akan segera kau lakukan adalah ………………………………………..

 

2. Melatih Kemahiran Berimajinasi

Penulis sastra bertualang dalam kehidupan imajinatif. Kehidupan imajinatif yang diciptakan pengarang merupakan hasil upaya pengarang untuk menghadirkan realitas baru ketika menyampaikan gagasan. Gagasan pengarang dikembangkan melalui peristiwa yang dijalin dalam alur cerita, tokoh, dan setting. Peristiwa dan tokoh yang dikembangkan bukan sebatas untuk membicarakan diri sendiri, melainkan berbicara tentang manusia dalam konteks kehidupan yang luas dan utuh.

Penulis sastra yang memiliki kemampuan imajinasi yang tinggi mampu menghasilkan karya sastra yang semakin berjarak dengan realitas kehidupan namun semakin dekat dengan kebenaran. Artinya, dalam menulis karya sastra penulis tidak memotret realitas kehidupan melainkan mengkap semangat zaman dan memaparkannya dalam sebuah realitas imajinatif.  Semangat zaman adalah dunia ideal dibangun dari filsafat, keyakinan, nilai-nilai kehidupan yang pada satu sisi terus-menerus dirindukan, dicita-citakan, dan  diperjuangkan; meskipun di pihak lain juga ada kekuatan terus-menerus yang berusaha untuk menghancurkan.

Kemahiran imajinasi dapat dilatihkan melalui beberapa cara, antara lain dengan meniru, memodifikasi, dan kreasi. Latihan imajinasi dengan cara meniru bertujuan untuk membantu penulis mengaktifkan daya imajinasi melalui contoh teks sastra. Latihan ini dilakukan dengan menyalin elemen-elemen tertentu yang dalam teks model. Misalnya, seorang penulis menyalin beberapa contoh setting dari beberapa cerpen dan novel, sehingga menggugah daya imajinasinya untuk menulis setting. Adapun latihan dengan modifikasi bertujuan mempertajam daya imajinasi, sehingga lebih kreatif mengolah ide, memaparkan gagasan,  dan menggunakan paparan bahasa.  Adapun kreasi bertujuan untuk memberdayakan kompetensi imajinasi untuk menghasilkan gagasan dan teknik ekspresi baru atau orisinal. Latihan imajinasi antara lain mencakup latihan imajinasi untuk memilih dan mengembangkan watak tokoh, peristiwa dalam alur cerita, serta setting cerita.

Latihan 2

Kerjakan tugas berikut!

1. Baca dan pahamilah tatacara penulisan tiga contoh setting berikut ini, kemudian tulislah sebuah setting  tempat untuk sebuah peristiwa dengan suasana yang menyenangkan dan sebuah setting  tempat untuk sebuah peristiwa dengan suasana yang menyedihkan! Tentukan sendiri satuan waktu terjadinya peristiwa yang digambarkan dengan setting tersebut!

 

Contoh 1

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.

Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

(Dikutp dari Robohnya surau Kami—A.A. Navis)

 

Contoh 2

Sudah lama saya tinggal di gedung raksasa yang memuat dua ratus apartemen ini, dan mungkin sayalah satu-satunya yang hidup sendirian tanpa anak dan istri. Selama ini saya tidak pernah terganggu. Meskipun saya tidak pernah mempunyai cita-cita untuk mempunyai anak, saya tidak berkeberatan melihat anak-anak menghabiskan waktunya di lapangan bermain di sebelah utara gedung. Lapangan ini dapat saya lihat dari jendela apartemen saya di tingkat delapan. Banyak benar jumlah mereka. Dan karena banyak orang tua yang hanya tinggal beberapa bulan saja, ank-anak di gedung ini pun banyak yang datang dan pergi.

 

Dikutip dari Budi Drama,  dalam Keluarga M, dalam Orang-orang Bloomington,  Halaman 41

 

2. Modifikasi peristiwa dalam teks berikut ini dengan cara memodifikasi (mengubah) nasib yang dialami oleh tokoh Widodo!

 

….

Lama Widodo membiarkan korbannya itu takjub. Dilihatnya bagaimana Mister Tammy melotot seolah-olah berhadapan dengan karya seni yang terbesar di dunia. “Alangkah mentakjubkan!” bisiknya.

Widodo membalas dengan bisikan pula, “Tepatnya, Mister, teko ini dibuat di Tibet oleh salah seorang seniman yang khusus dipesan oleh Sri Maharaja Nang. Seorang tua telah memilikinya di Palembang. Jadi teko ini telah Raja berikan kepada Dutanya yang dikirim ke Sriwijaya. Teko ini untuk upacara minum teh. Sebuah jamuan kenegaraan antara Tiongkok dengan semua negara sahabat!”

“Berapa harganya?” tanya Mister Tammy tanpa menyentuh.

“Lima belas juta, Mister. Halus sekali. Sentuhlah!”

“Tidak. Aku tak berani menyentuh benda antik seindah itu.”

“Usia teko ini sudah 18 abad, Mister. Alangkah ajaibnya, delapan belas abad !”

“Tuhan, betapa mahalnya teko ini!” kata Tammy dengan nada tiba-tiba bariton.

“Indahnya, mister,” jawab Widodo sambil melihat mata naga. “Mister pecinta keindahan, bukan?” sambungnya pula.

“Ya, memang. Tapi uangku tak sebanyak itu. Kekayaanku lebih banyak berupa benda-benda yang bergerak dan tak bergerak.”

“Rumah dan mobil?”

“Dan pabrik! Telah lama aku punya keinginan untuk membuat koleksi benda-benda kesenian. Lukisan Affandi, Rusli atau Nashar, atau patung-patung Cokot dan Sidharta. Saya belum sempat mengagumi mereka, tapi sering kubaca di surat-surat kabar. Mestinya mereka itu punya karya-karya yang pantas saya jadikan koleksi pribadiku,” jawab Mister Tammy alias Sutomo.

“Tentu, Mister, tentu! Mereka itu tentu punya karya yang lumayan meskipun kebanyakan mereka itu agak sinting. Tapi kembali ke teko ini, saya tidak keberatan jika diganti dengan rumah dan juga uang, tentunya. Beras di rumah telah habis, mister, maafkan jika saya terlampau terus terang.”

“Tak bisa kurang sedikit?”

“Tentu saja bisa, Mister. Dalam perdagangan seperti Tuan maklum, harga bisa damai. Apalagi mister pecinta benda seni!”

Tammy tak mendengarkan lebih lanjut, dengan tangkas dia bangkit kemudian ke belakang. Dia menulis sepucuk surat untuk Tuan Wahyono, ahli keramik sebelah rumah. Dia suruh pelayannya cepat mengantarkan surat itu.

“Aku minta bantuan Tuan Wahyono untuk menilai harga teko ini. Dia adalah ahli keramik. Rumahnya di sebelah itu,” ujar Tammy setelah kembali duduk di dekat tamunya.

“O, baik sekali Mister. Itu lebih pasti,” kata Widodo lega.

“Aku minta kau bisa bersikap luwes dalam soal harga,” bisik Mister Tammy.

“Pasti. Kita tunggu saja apa kata ahli keramik itu tentang teko ajaib ini. Kata yang punya dulu, teko ini bisa menangis kalau malam Jun’at.”

“Menangis? Kau sungguh-sungguh?”

“Yaaa, buat apa saya membohongi Anda, Mister?”

“Aku pernah bermimpi, memiliki teko yang bisa menangis.”

“Oh, lihatlah, Mister. Bulu romaku berdiri!” jerit Widodo. Bulu romanya benar-benar berdiri. Ada semacam sugesti yang aneh. Ada persatuan yang ghaib antara impian Mister Tammy dengan khayal Widodo, antara teko yang menangis dan selamat tinggal kemelaratan bagi pihak penjual.

Kemudian datang Tuan Wahyono dengan buru-buru. Sebagai ahli keramik, wajahnya tenang. Sebab dia sudah menyatukan seluruh kehidupannya dengan keramik yang telah jadi fossil sekalipun. Dia pegang teko itu dan mengamat-amatinya secara cermat melalui kacamata tebalnya. “Alangkah indahnya, keramik ini, “katanya dingin dan mata Widodo bersinar-sinar. “Sayang sekali ujungnya agak retak. Naganya bagus!”

Kedua lelaki yang mendengar komentar ini tak berani membuka mulut. “Ini adalah teko buatan Jepang,” kata Tuan Wahyono kemudian. Teko tadi lalu dislentik-slentiknya, sehingga berbunyi tig, tig, tig. “Tapi sayang sekali, Tam, usianya masih muda sekali. Lihat, ini! Suaranya tidak bening, kan. Kalau keramik antik bunyinya ting-ting-ting. Bukan tig-tig-tig. Dan keramik kuno tidak punya pantat semacam ini. Pantatnya terusan. Ini jelas keramik Jepang yang masih muda sekali usianya,” sambungnya dengan nada datar.

Tuan Wahyono memandang Tammy, Mister Tammy memandang Widodo. Dan laki-laki ini tiba-tiba putih wajahnya, seperti tembok. Jantungnya berhenti berdetak. Bibirnya gemetar. Dia ingin mengucapkan sesuatu tapi tak ada kekuatannya. Dia lumpuh bagaikan kena encok seluruh tubuhnya.

….

(Dikutip dari teko Jepang karya Yasso Winarto)

3. Tulislah sebuah peristiwa imajinatif yang menggambarkan pertemuan dua sahabat pada sebuah lorong rumah sakit!

 

3.   Menggunakan Bahasa sebagai  Sarana Ekspresi

Jika seorang pelukis menggunakan garis, komposisi,  dan warna untuk mengungkapkan gagasan pikiran dan perasaannya, maka penulis menggunakan bahasa sebagai sarana ekspresi. Pengarang melakukan pemberdayaan bahasa untuk berbagai fungsi komunikasi, sehingga terbangun satuan-satuan makna kehidupan yang utuh. Bahasa sebagai sarana ekspresi berupa kata atau kalimat yang mengandung    yang sarat makna dan memiliki efek  keindahannya. Penggunaan bahasa sebagai sarana ekspresi berhubungan erat dengan masalah latar belakang pengarang sebagai individu dan konteks sosial masyarakat yang melatarbelakanginya.

Bahasa menjadi media interaksi komunikasi pengarang dengan pembaca. Bahasa yang digunakan pengarang dapat menjelajahi dunia intelektual dan emosi pembaca hingga sisi-sisi yang paling dalam. Bahasa merepresentasikan manusia dan kehidupan yang kadangkala hadir dengan penuh keindahan, kelembutan, kasih sayang, suka cita, murah hati, kejujuran, kesucian; tetapi pada saat dan siatuasi yang berlainan dijumpai sebagai sesuatu yang menakutkan, garang, kejam, licik, dengki, dendam, dan amarah. Bahkan Wellek dan Warren (1990: 19) menyatakan tokoh novel muncul dari kalimat-kalimat yang mendeskripsikannya, dan dari kata-kata yang diletakkan di bibirtokoh  oleh pengarang. Di luar karya sastra, tokoh itu tidak mempunyai masa lalu, masa depan, dan kontinuitas hidup.

Setiap pengarang memiliki gaya (ekspresi, tutur, penceritaan) yang sangat khas. Gaya diartikan sebagai cara pengarang dalam menggunakan bahasa untuk menuturkan kisah yang dicerikanannya atau gagasan pikiran yang dikemukakannya. Meskipun setiap pengarang memiliki gaya yang khas, namun terdapat sarana retorika (sejumlah pola gaya bahasa yang bisa digunakan pengarang) untuk mengajak pembaca memikirkan, memahami, dan lebih menghayati gagasan yang dikemukakan. Sarana retorika berbeda dengan kiasan dan citraan yang digunakan pengarang untuk mengkonkretkan dan menciptakan perspektif baru dalam memahami sebuah objek (Sayuti, 2003: 57—58).

Menurut Sayuti (2003:10) bahasa puisi bersifat ekspresif (berfungsi untuk mengekspresikan gagasan penyair dan menimbulkan kesan yang kuat),  sugestif (mampu mempengaruhi pembaca dengan cara yang menyenangkan), asosiatif (mampu membangkitkan pikiran dan perasaan pembaca untuk membangun asosiasi makna yang relevan dan padu), dan magis (mengandung kekuatan untuk mempengaruhi pikiran dan perasaan pembaca). Dalam penulisan puisi, bahasa berfungsi seperti cat warna dalam lukisan yang berperan untuk menyampaikan gagasan pikiran, perasaan, menimbulkan kesan, dan memberi efek keindahan.  Kemampuan penyair dalam memilih dan menata bahasa sebagai sarana eskpresi  tidak dapat dipisahkan dari upaya penyair untuk membangun gagasan atau makna yang ingin diungkapkan. Penyair berusaha untuk menggunakan kata-kata berjiwa, kata-kata yang memiliki kekuatan atau daya sugesti untuk mempengaruhi kejiwaan pihak lain.

Setiap individu memiliki kekayaan kosa kata yang luar biasa. Kekayaan kosa kata tersebut tidak semata-mata berhubungan dengan jumlah; ragam (benda, kerja, sifat, bilangan); makna (sinonim–antonim, ameliorasi– peyorasi, umum—khusus, ilmiah—populer); emlainkan dengan dengan konteks penggunaan, efek psikologis, dan estetis yang ditimbulkannya. Latihan penggunaan bahasa sebagai sarana ekspresi dapat dilakukan secara bertahap. Latihan dapat dimulai dengan melakukan eksplorasi kekayaan kosa kata untuk berbgai kepentingan ekspresi dalam berbagai konteks.

 

Latihan 3

Kerjakan tugas berikut ini dengan seksama!

1. Pilihlah sebuah objek, amati, dan imajinasikan  dengan segenap kemampuan Anda! Imajinasikan tokoh-tokoh, peristiwa, waktu, tempat, suasana, warna, musim, suhu, suara, rasa, tekstur, ukuran dan hal-hal lainnnya! Kemudian, deskripsikan kosa kata yang dapat anda eksplorasi dari objek yang yang telah Anda pilih! Perhatikan contoh

 

 

Objek yang Diamati: Peristiwa dan suasana di halte bis pada pukul 22.00

No.

Imajinasi

Kosa kata

1.

Tokoh gadis, lelaki tua, ….

2.

Peristiwa berdiri, duduk, ….

3.

Waktu malam, 30 menit, ….

4.

Tempat halte, jalan raya, ….

5.

Suasana sepi, lengang, ….

6.

Warna hitam, putih, ….

7.

Musim hujan, gerimis, ….

8.

Suhu dingin, 22 derjat Celcius

9.

Suara berdesir, tipung dan gitar pengamen

10.

Rasa manis, getir, ….

11

Tekstur Bopeng, halus, ….

12.

Ukuran Kurus, tinggi,

13.

Cahaya terang, suram, ….

14.

Gerak menalu, gemerisik, ….

 

2. Gunakanlah kata-kata dalam kolom telah Anda isi untuk menyusun kalimat yang menyatakan hal-hal berikut! Perhatikan contoh!

Pada malam yang lengang disaput gerimis, laki-laki tua dan gadis itu telah berdiri sekitar 30 menit di halte bis.

  1. memberikan informasi
  2. menyampaikan pertanyaan
  3. menyatakan ketakutan
  4. menyatakan kesedihan
  5. menyatakan kekecewaan
  6. menyatakan kejutan
  7. menyatakan kesepian
  8. menyatakan kerinduan
  9. menyatakan harapan
  10. menyatakan kegembiraan

3. Tulislah sebuah paparan singkat yang menggambarkan peristiwa yang anda imajinasikan berdasarkan objek yang Anda amati!

 

 

4. Model Pelatihan

Secara umum, tiga tahapan penting dalam proses penulisan sastra yaitu, tahap persiapan (penulis memilih objek penulisan, menentukan perspektif tertentu dalam memahami objek,   menetapkan tema penulisan); tahap penulisan (penulis mengembangkan tema melalui sejumlah piranti sastra dengan media bahasa); dan (3) tahap revisi (penulis melakukan pengecekan ulang dan melakukan perbaikan pada bagian yang dipandang masih lemah baik dari segi isi, bentuk, maupun bahasa).

 

4.1 Penulisan Fiksi

Unsur fiksi dapat dibedakan menjadi dua, yakni: (1)  unsur intrinsik (unsur kesastraan  yang  menjadi tumpuan untuk membangun  struktur  cerita yang utuh) dan (2) unsur ekstrinsik (unsur-unsur di luar disiplin ilmu sastra yang dimanfaatkan pengarang untuk mengembangkan cerita). Unsur intrinsik berupa alur,  tokoh dan penokohan, tema, setting, gaya penceritaan, dan sudut pandang pengarang (Perrine, 1983; Sudjiman, 1987). Adapaun unsur ekstrinsik misalnya, bidang psikologi, ekonomi, dan sosiologi.  Unsur kesastraan menjadi alat bagi pengarang untuk menuangkan gagasan.

 

4.1.1 Menentukan Tema

Tema adalah gagasan dasar cerita yang mengandung nilai (pesan) dan berfungsi untuk mengontrol ide pengarang. Tema juga merupakan kesimpulan tentang makna kehidupan yang secara umum dikisahkan dalam fiksi. Pemahaman tema diperoleh dengan terlebih dahulu memahami tujuan utama cerpen dan pandangan-pandangan hidup yang akan dikemukakan pengarang untuk mendukung tema tersebut (Perrine, 1983:105). Seorang penulis dapat memilih dan menentukan tema antara lain dari pengalaman pribadi, hasil pengamatan, pengalaman membaca, atau perenungan.

 

4.1.2 Memilih dan Mengembangkan Watak Tokoh

Tokoh merupakan individu yang dipilih pengarang untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Dalam cerpen, tokoh dikembangkan dengan  sisi-sisi kepribadian yang kompleks, bervariasi, dan seringkali ambigu. Tokoh utama tidak perlu sosok yang atraktif, ia manusia biasa yang tidak sempurna dan juga tidak sama sekali buruk. Tokoh dalam  fiksi ditampilkan secara wajar, dikembangkan secara variatif sebagai tokoh utama, digambarkan ciri lahir, sifat, dan sikap batinnya agar wataknya dikenal pembaca. Tokoh dipilih dan dikembangkan wataknya sesuai dengan tema yang telah didtetapkan sebelumnya. Kehadiran tokoh pembantu berfungsi untuk mendukung pengembangan gagasan untuk mencapai tema yang disampaikan tokoh utama.

 

4.1.3 Mengembangkan Plot  Cerita

Plot disebut juga dengan istilah alur. Plot adalah tahapan kejadian atau peristiwa yang membentuk kisah dalam sebuah karangan (Perrine, 1983:41). Urutan kejadian atau peristiwa tersebut juga memberikan sumbangan terhadap keberhasilan pengembangan emosi tokoh dan efek artistik (Abrams, 1981: 137). Plot dalam cerpen memiliki peran sebagaimana  peta dalam sebuah perjalanan. Jika dalam perjalanan arah ditunjukkan dengan gambar, maka dalam fiksi arah dijabarkan dengan rincian peristiwa. Rinician peristiwa dinyatakan melalui ucapan,  pikiran, dan tindan  tokoh;  serta deskripsi dan analisis peristiwa yang  diarahkan pada urutan peristiwa-peristiwa pokok untuk membangun plot.

 

4.1.4 Memilih dan Mengembangkan Latar (Setting)

Latar merupakan unsur cerpen yang paling mudah dikenali oleh pembaca. Seperti dijelaskan oleh Sudjiman (1991) bahwa latar adalah segala keterangan, petunjuk, dan pengacuan yang berkaitan dengan ruang, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa yang dikembangkan penulis cerpen. Latar mengacu pada pengertian secara menyeluruh hubungan tempat, waktu, dan lingkungan sosial terjadinya  peristiwa. Latar memberikan kesan lebih realistis kepada pembaca sehingga pemahaman terhadap cerita menjadi lebih utuh, peristiwa dan suasana tertentu yang seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan. Latar yang dikembangkan dengan tepat akan memudahkan pembaca dalam mewujudkan  imajinasinya. Pembaca dapat menilai kebenaran, ketepatan, dan aktualisasi latar yang diceritakan  sehingga merasa lebih akrab dengan peristiwa yang dikisahkan. Latar terbagi atas dua katagori, yaitu  latar fisik dan  latar sosial (Hudson dalam Sudjiman, 1991).

 

4.1.5 Memilih Gaya Penceritaan

Salah satu tantangan bagi seorang penulis sastra adalah menaklukkan bahasa sebagai kendaraan berekspresi. Dalam  penulisan fiksi, pengarang menampilkan tokoh cerita dengan  meggunakan teknik langsung dan tidak langsung (Perrine, 1983: 66). Teknik langsung digunakan dengan menyampaikan eksposisi atau analisis terhadap ciri-ciri tokoh. Teknik ini dirasakan dapat memaparkan watak tokoh dengan jelas dan ekonomis.  Adapun teknik tak langsung digunakan dengan menampilkan dialog dan eksyen yang dialakukan tokoh dalam suatu satuan peristiwa. Teknik tak langsung berusaha menampilkan tokoh dalam latar kehidupan yang lebih alamiah. Bandingkan dua teks berikut.

Teks 1

Semua orang, tua muda, besar kecil, memanggilnya Ompi. Hatinya agak kecil bila dipanggil lain. Dan semua orang tak hendak mengecilkan hati orang tua itu.

Di waktu mudanya Ompi menjadi klerk di kantor Residen. Maka sempatlah ia mengumpulkan harta yang lumayan banyaknya. Semenjak isterinya meninggal dua belas tahun berselang, perhatiannya tertumpah pada anak tunggalnya, laki-laki. Mula-mula si anak dinaminya Edward. Tapi karena raja Inggris itu turun tahtakarena perempuan, ditukarnya nama Edward jadi Ismail. Sesuai dengan nama raja Kerajaan Mesir yang pertama.Ketika tersiar pula kabar, bahwa ada seorang ismail terhukum karena maling dan membunuh,  Ompi naik pitam.  ….

 

    (Robohnya Surau Kami, karya A.A. Navis, Halaman 15)

 

Teks 2

“Cerita  maaf, memang paling mudah diucapkan oleh orang yang telah merasakan hidup senang. Tapi bagiku, orang yang selamanya dalam kesulitan ini, cerita maaf haruslah diperhitungkan dulu. Perhitungan antara aku dan kau,” Kata perempuan itu tnapa kehilangan gayanya yang ketus.

“Iyah, ” kata laki-laki lagi dengan gaya yang meminta belas kasihan. “Ketika lama sesudah aku menceraikan kau dulu, aku telah menyesal.” Namun tak ada kata-kata keluar dari mulutnya selain hanya menyebut nama perempuan itu.

“Sekarang kau datang kemari, hanya untuk merusak.”

“Kau tahu aku akan datang?”

“Tahu. Tapi aku selalu berusaha supaya kau tak jadi datang. Tapi aku tak bisa mencegahmu datang.”

“Mengapa kau mencegahku?”

“Kedatanganmu merusak.”

“Tapi aku sudah tobat. Aku sudah lama menyediakan  hidupku untuk kebaikan. Aku sudah lama mengerti apa gunanya dan bagaimana orang harus hidup.”

“Tapi kedatanganmu kemari tetap membawa dosa.”

“Membawa dosa? Kenapa dosa kubawa? Bukankah aku diminta datang kemari untuk …,” ia terhenti sejenak. Tapi kemudian disambungnya lagi, “Maksudku aku datang untuk minta maaf  anakku. Demi kebahagiaan anakku dengan isterinya.”

“Istri Masri anakku. Juga anakmu,” kata perempuan ketus.

“Iyah,” kata laki-laki itu terpekik dalam suaranya yang parau. Dan tiba-tiba tubuhnya gemetar, kemudian layu di sandaran kursi. Tak dapat ia berkata sepatah pun lagi. Pikiran dan perasaannya menampak bayangan kacau yang bertelau-telau tiada berbentuk apapun. Memenuhi segala ruang. Lama sekali begitu. Dan ketika sadar pada dirinya lagi, ia tak berani menyalangkan matanya untuk melihat keadaan di sekitarnya. Ia mau mencoba berpikir dan menimbang-nimbang segala yang terjadi dan teralami oleh dirinya sendiri.

“Pahit kau menerima kenyataan ini? Demikian juga aku. Ketika aku tahu mereka bersaudara kandung, sejak itu sampai sekarang, aku sediakan diriku dipukuli kutukan. Rela aku menderita segala dosa-dosa ini, asal mereka tetap bahagia.” Suara Iyah memasuki rumpun telinga laki-laki yang bersandar nanar di kursi.

“Mengapa tak kau katakan?”

“Mengapa aku katakan?”

Dan laki-laki tua itu membuka matanya dan bertanya lagi. “Bukankah itu dosa?”

“Benar. Bagi siapa yang tahu.”

“Karena itu kau biarkan mereka tak tahu?” Ia mulai membangkitkan dirinya lagi. “Walau bagaimanapun mereka harus tahu. Harus. Mesti. Wajib.” Lalu sekujur tubuhnya melemah lagi. Sejenak kemudian dengan suaranya yang mendesis parau ia melanjutkan kata-katanya. “Ini semua dosa, Iyah. Dosa besar. Dosa bagi kita. Dosa bagiku, dosa bagi  kau. Juga dosa bagi mereka.”

….

 

Dikutip dari Navis, A.A.. 2002. Robohnya Surau Kami, halaman 68-69.

 

 

4.1.6 Menetapkan Sudut Pandang Pengarang

Sudut pandang atau point of view, atau viewpoint adalah cara yang dipilih pengarang dalam mengisahkan sebuah cerita. Perrine (1983: 161) mengungkapkan,  sudut pandang pengarang menjelaskan bagaimana pengarang menampilkan tokoh dan melaporkan apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Sudut pandang yang digunakan lazim pengarang, yaitu: (1) pengarang sebagai pelaku, (1) pengarang sebagai pengamat, (2) pengarang bersikap maha tahu

Beberapa model pelatihan dasar penulisan prosa dapat dilakukan dengan (1) melanjutkan bagian teks fiksi yang dihilangkan, (2) meniru atau memodifikasi fiksi model, (3) model buku harian, dan (4) model kreasi.

 

Latihan 4.1

Kerjakan pelatihan berikut!

1.      Lanjutkan bagian-bagian cerita yang rumapang beikut ini!

 

UMI KALSUM

Jamil Suherman

      . . . .

Perkenalanku dengan Umi sudah diketahui oleh Zainab yang sejak mulanya sudah merasa cemburu. Pada suatu malam ketika di surau Nyai Syafii diadakan malam kasidah aku dan teman-teman sengaja mengintip. Dan tampak olehku di pojok sana Umi dan Salamah duduk berjejer. Umi sedang melagukan sebuah kasidah. Tiba-tiba dalam menikmati suaranya sendiri itu matanya melihat ke arahku, tapi aku yakin ia takkan tahu kami.

Kawan-akawan mulai berbisik demi mereka melihat si Umi sedang tersenyum dan salah seorang di antara kami mencoba mendehem. Karuan saja perhatian mereka tertuju ke arah datangnya suara dehem itu dan kami sama kabur ketakutan. Tapi kemudian aku ingin mengintipnya lagi. Sekali ini kuharap jangan seorang temanku mengikutku.

Diam-diam dan dengan menahan nafas aku nikmati mata teduh dan buah kulum delima itu benar-benar. Ya, Allah, adakah aku hanya ditakdirkan untuk mengagumi dan bermimpi saja? – sebutku dalam hati. Kurasa lama-lama hatiku makin berdebar, seolah ada sesuatu yang mempengaruhi keadaanku. Kudukku dingin ditiup angin malam dan hatiku serasa makin lengang. Aku tercenung dan berpikir. Dalam keadaan seperti itu tak kutahu adakah teman-temanku mengetahui tingkahku malam itu. Yang jelas pada malam itu aku tak bisa tidur. Aku sengaja tidur dengan teman-teman sambil melupakan perasaan yang aneh-aneh. Aku cuma berharap, mudah-mudahan malam ini aku bisa mimpi indah dan panjang. Aku berpikir, kenapa aku semudah ini mengagumi kecantikan. Kecantikan dalam bentuk apapun. Begitu sederhana pikiranaku ketika itu.

Dalam menelentang melihat langit-langit yang suram, Ikhwan teman sebelahku yang kukira sudah tidur tiba-tiba bersuara seperti sengaja memperolok aku:

–Yah, memang begitu bagus matanya—Aku kaget dan menoleh.

–Kau belum tidur Wan? –

–O, mata itu seperti pohon beringin, –  sambungnya tak mendengarkan pertanyaanku.

–Kau tadi melihat aku?—

–Ya, aku melihat senyuman itu. –Alangkah babinya orang ini, pikirku jengkel. Tapi Ikhwan cuma menggeliat dan menguap seperti kucing..

–Kau cinta padanya, Wan?—tanyaku lagi mulai cemburu.

–Mungkin juga seperti kau.—

–Dan kau mau melamar dia?—cemburuku makin kuat.

Tapi Ikhwan tiba-tiba ketawa sinis. Dan apa jawabnya kemudian:

–Aku tahu perasaanmu, kawan—katanya.

–Aku?—

–Ya, kau.—

–Lantas apa pendapatmu?—

Sayang aku tak punya pendapat. Aku tahu, aku cuma anak mak Mirah, lebih dari itu tidak—Suara Ikhwan terdengar sedih.

……………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………….

……………………………………………………………………………………………………………………….

Bayangan-bayangan panjang mengikuti gerak langkah kami sepanjang jalan seperti hantu. Latifah masih juga tak ikut bicara. Kepalanya tunduk seperti ikut merasakan getaran perasaan kami. Memang dia begitu pemalu, tidak seperti adiknya.

–Maafkan aku.—Tiba-tiba terdengar lagi suara Umi lirih dan lembut seperti musik. Tapi di luar dugaan, dari arah yang hendak kami tuju kulihat sosok tubuh manusia berdiri tegak di tepi jalan mengawasi kami. Ia berdiri tak jauh dari letak rumah Umi. Dalam pikiranku aku tak bisa mengenalnya. Tapi ketika kedua gadis itu melihatnya tiba-tiba muka mereka jadi pucat dan hampir saja menjerit.

Kami berhenti beberapa langkah dari orang itu. Dengan gerak kelaki-lakian orang itu menghampiri kedua gadis itu. Dan tanpa bicara apa-apa kulihat sebuah tnagan melayang menimpa kelpa Umi dan selayang lagi pada Latifah. Keduanya menjerit lalu belarian masuk ke rumahnya.

–Bangsat, siapa Kau?—Orang itu membentak dan ketika menajami mukaku dengan geramnya ia hendak mencekam aku. Setengah takut aku undur dan menjawab:

–Aku teman Umi dan Latifah. – Dan tiba-tiba benciku timbul pada  haji yang murah tangan itu.

–Cucu Ishak itu? – Aku mengangguk.

–Kenapa Kau berani omong-omong sama anak-anakku?—

–Tapi tak bermaksud jahat pada anakkmu. Kami cuma berteman baik dan kebetulan kami bertemu di jalan. Saya antarkan mereka pulang .—

–Tapi aku larang Kau dekati meereka, mengerti Kau anak lapar?—

Betapa tersinggungku mendengar kata-kata terakhir haji itu. Tapi aku tak berani dan tak bisa berbuat apa-apa selain kecut dan mendongkol.

–Awas sekali lagi kalau Kua berani. –kata haji itu lagi mengancam.—Umi sudah bertunangan. Pergi Kau. Pergi!—

Haji itu membentak. Ia begitu geram, hingga mukanya yang mesum menimbulkan rasa jijikku. Tapi sedikit pun aku tak bergerak dari tempatku. Aku berpikir, inikah kata orang haji Singapur itu?

Orang-orang pesantren Kedungpring memberi gelar dia “Haji Singapur” karena waktu hajinya dulu tak sampai ke Mekah. Ia berkeliaran di kota plesiran itu beberapa bulan dengan dagangannya dan baru kembali dengan menggabungkan diri pada orang-orang yang datang dari tanah suci. Tapi rahasia yang didiamkan itu akhirnya jadi populer di pesantren.

Sesudah haji itu meninggalkan aku dan baru saja aku melangkah, dari rumah Umi terdengar suara gaduh diiringi tangis perempuan. Aku kenal suara itu sebagai suara Umi. Ia melolong-lolong dalam sela bentak dan rotan mungkin bersama kakaknya.

–Ampun, Pak. Aduh, ampun!—

………………………………………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………………………………………..

2. Gantilah salah satu tokoh dalam kutipan cerpen berikut  dengan tokoh lain!

TEKO JEPANG

Karya: Yasso Winarto

Setiap pagi Widodo keluar gubuknya, meninggalkan isteri dan tiga anaknya, membawa plastik murahan berwarna hitam. Sudah seminggu ini persediaan beras di rumah semakin menipis. Isterinya meratap tetapi Widodo hanya mengatakan supaya menunggu beberapa hari ini. “Aku akan pulang dengan tas hitam ini penuh dengan uang puluhan ribu.”

“Siapa mau berbuat edan, beli teko itu dengan harga jutaan rupiah seperti impianmu itu? Yang kuperlukan bukan uang sebanyak itu. Aku hanya ingin segenggam beras dan ikan asin setiap hari! Aku tak tahan, sungguh, melihat anak-anak menangis karena lapar. Dan itulah sebabnya aku mohon kau lekas-lekas kerja di kantor apa pun. Biarlah gajinya sedikit, tapi cukup buat makan setiap harinya!” Ujar  isterinya.

“Untuk seumur hidup diperbudak pekerjaan demi uang beberapa perak? Berkeluh-kesah sampai tua seperti Pak Darmadji yang telah bungkuk akibat pengabdiannya kepada sekolahnya itu? Tidak! Aku tidak mau jadi budak seumur hidup! Kalau aku bekerja jadi pegawai, nasibku di masa depan sudah jelas: Ialah budak melarat yang malang. Aku ingin nasibku tidak sejelek itu. Sehingga aku masih bisa memperebutkan nasib baikku,” jawab Widodo.

“Ya, ya, tapi bagaimana caramu?”

“Ini!” katanya untuk kesekian puluh kali. Dengan hati-hati dibukanya tas plastik hitamnya dan dikeluarkannya sebuah bungkusan yang kelihatan gawat. Dipegangnya bungkusan itu dengan sangat hati-hati, tangan isterinya dia larang menyentuh. “Awas, nanti pecah. Teko Jepang ini hanya boleh dipegang oleh tangan yang ahli. Kau tahu, berapa usia teko ini?”

Dikutip dari Hoerip, Sataygraha (Ed.),  1979. Cerita Pendek Indonesia 4. Jakarta: P3B Depdikbud. Halaman 110-114.

 

3. Lengkapilah catatan harian berikut ini, sehingga keseluruhan peristiwa yang terjalan menunjukkan alur cerita dalam cerpen yang meliputi (1) eksposisi, (2) konflik, (3) komplikasi, (4) klimaks, dan (5) solusi.

 

Malang, Awal Agustus 2006

Pada tanggal 10 Agustus nanti aku telah genap 2 tahun tinggal di kota Malang. Belajar pada di salah satu perguruan tinggi terbaik di kota ini, aku harus melakukan penyesuaian besar-besaran. …………………………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………………………….

 

Malang, Medio September 2006

Aku tidak mengira bahwa kabar buruk akan datang secepat ini.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

 

Malang, Akhir November 2006

Ketika aku tengah berusaha bangkit mengatasi kesedihan hati dan kekecewaan sikap keluarga Bapakku, Tuhan menguji kembali ketabahanku.

……………………………………………………………………………………………………………………………

……………………………………………………………………………………………………………………………

Malang, Desember 2006

Tidak ada pilihan lainbagiku kecuali bersahabat dengan kenyataan.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

 

 

Malang, September 2008

Aku menutup kopor dengan perasaan bahagia dan haru. Aku akan tinggalkan kamar yang telah menjadi saksi dari sebauah bagian penting perjalanan hidupku.

…………………………………………………………………………………………………………………………..

………………………………………………………………………………………………………………………….

4.2 Penulisan Puisi

Puisi dapat didefinisikan sebagai penyajian interpretasi terhadap pengalaman hidup secara dramatik dalam bahasa bermetrum (metrical language) oleh seorang penyair. Definisi tersebut mengisyaratkan bahwa dalam menulis puisi penyair  menggunakan kemampuan berpikir, kepekaan imajinasi, dan kreativitas untuk menginterpretasikan pengalaman hidup. Penyair memilih realitas kehidupan yang bersifat dramatik untuk  disajikan dalam puisi dengan bahasa yang dipilih secara hati-hati agar  setiap kata dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan maksud penyair.

4.2.1 Mengembangkan Tema  

Menulis puisi dapat dikatakan sebagai aktivitas mengekspresikan  pengalaman batin yang telah dialami penyair dengan media bahasa. Pengalaman batin  tersebut direnungkan dan disublimasikan hingga penyair memahami nilai kehidupan yang akan disampaikannya. Nilai kehidupan tersebut dirumuskan dalam bentuk tema yang berfungsi sebagai pengontrol ide bagi penyair ketika mengembangkan gagasannya.

 

4.2.2 Mengembangkan  Bentuk Puisi

Selain untuk mengembangkan tema, bahasa juga digunakan penyair untuk mengembangkan bentuk puisi. Struktur bentuk dan makna puisi merupakan kesatuan yang utuh.  Unsur bentuk dibangun melalui penggunaan unsur bahasa yang berupa bunyi, kata,  kalimat, dan bait, dan tipografi sebagai sarana untuk membangun makna dan menimbulkan efek estetik. Kekhasan bahasa puisi yang digunakan seorang penyair  sekaligus menandai eksistensi  diri dalam jagat kepenyairan.

 

4.2.3 Mengembangkan Situasi Dramatik dalam Puisi

Situasi dramatik  merupakan elemen penting dalam puisi (Hurt , 1994: 564-565). Puisi merupakan hasil eksplorasi terhadap realitas hidup yang sarat dengan situasi yang dramatik. Penyair mengamati bahwa dalam berbagai  peristiwa kehidupan manusia dihadapkan pada situasi dilematis, sehingga menimbulkan konflik. Konflik memicu munculnya ketegangan  (suspense) dengan penyelesaian yang seringkali di luar dugaan, sehingga menimbulkan kejutan (surprise). Konflik, tegangan, dan kejutan menjadi unsur pokok munculnya situasi dramatik. Misalnya, dalam puisi ballada, pengarang menampilkan peristiwa dramatik yang dialami tokoh dan dikemas dalam rangkaian kisah sedih (ballad).

Latihan penulisan puisi dapat dilakukan dengan berbagai strategi, antara lain copy master (mencontoh puisi karya penulis lain); observasi (memilih objek, mengembangkan ide, dan menghimpun kata puitik);  jaring-jaring pemahaman makna; formula; dan teknik mozaik.

 

Latihan 4.2

Tulislah puisi dengan strategi formula warna berikut!

  1. Pilihlah sebuah objek yang menarik perhatian kalian!
  2. Pilihlah sebuah perspektif (sudut pandang) pengamatan dan pemahaman objek tersebut!
  3. Pilihlah sebuah simbol warna untuk objek yang Anda pilih dan sesuaikan dengan perpektif yang Anda dalam mengamati dan memahami objek!
  4. Imajinasikan objek tersebut berdasarkan perspektif yang telah kalian pilih!
  5. Tulislah kerangka gagasan (isi) puisi yang akan Anda tulis!
  6. Tulislah kalimat-kalimat puitik dengan memanfaatkan simbol-simbol warna untuk mengembangkan kerangka gagasan yang telah Anda tulis!
  7. Susun kalimat-kalimat puitik menjadi sebuah puisi .
  8. Tuliskan judul yang sesuai!
  9. Tukarkan pekerjaan Anda dengan salah seorang teman dan tuliskan saran-saran perbaikan.
  10. Revisilah teks puisi Anda!
  11. Lakukan apmeran karya atau jilid menjadi sebuah antologi!

 

 

4.3. Penulisan Naskah Drama

Istilah drama dapat dipahami dari dua sudut pandang, yakni sebagai fenomena sastra dan fenomena seni pementasan. Apabila drama dipahami sebagai fenomena sastra, drama ditemukan dalam wujud naskah atau teks tertulis. Akan tetapi, jika drama dipahami sebagai seni pementasan, naskah drama berfungsi sebagai bahan pementasan yang memerlukan sejumlah unsur  pendukung yang digarap dengan pendekatan artistik secara komprehensif. Unsur-unsur pendukung pementasan drama berupa seni gerak, seni olah suara (dialog), tatapanggung, tatasuara, tatacahaya, dan tatarias serta kostum aktor. Penggarapan unsur pendukung sebagai upaya untuk mewujudkan struktur bangunan dramatik yang sebenarnya berada di luar wilayah kesastraan.

Bertolak dari batasan Aristoteles, bahwa drama adalah “imitation of life in action”, dapat dijelaskan drama  sebagai suatu kisah kehidupan yang disampaikan dalam bentuk dialog, diproyeksikandi atas pentas di hadapan penonton. Kisah kehidupan yang dikembangkan dalam drama bertumpu pada  konflik.,  karena itu seni drama disebut juga dengan seni konflik. Meskipun setiap naskah memiliki plot, tema, tokoh dan watak tokoh,  setting, suasana yang  berbeda-beda, namun  konflik selalu hadir sebagai bentuk oposisi di antara kecenderungan manusia. Konflik berkaitan dengan upaya tokoh untuk mewujudkan keinginan, kebutuhan, kecenderungan, atau harapan.  Perjuangan mewujudkan harapan tersebut melahirkan bentuk-bentuk konflik yang  bermuatan nilai-nilai dramatik. Drama merupakan pernyataan dari kemauan manusia dalam menghadapi tantangan atau oposisi dalam kehidupannya. Dengan kata lain,  drama adalah pertentangan antara kecenderungan-kecenderungan manusia dalam memilih nilai moral kehidupan.

Alat utama penyampaian tema dalam drama berupa perilaku manusia. Perilaku mengekspresikan nilai dan  sikap moral manusia. Oleh karena itu, untuk memahami perilaku manusia atau tokoh dalam drama  diperlukan pengetahuan tentang  tipologi watak manusia yang dipengaruhi aspek  psikologi-kultural yang berlaku dalam lingkungan hidup kebudayaannya. Dengan demikian, meskipun penulis naskah menyampaikan tema melalui ekspresi dramatik yang berbeda-beda,  pemahaman perilaku manusia tetap menjadi fondasi utama.

Aspek dramatik berupa tegangan (suspense) dan kejutan (surprise) yang termuat dalam pengembangan  aspek-aspek kesastraan dalam naskah yang mencakup plot, karakter, tema, setting, dan bahasa. Kekuatan tema dan plot tergantung pada kemampuan pengarang memilih dan mengolah tema sentral moralitas kehidupan yang dikembangkan dalam naskah. Pengarang dengan wawasan moral yang matang mampu menyajikan unit peristiwa yang menggambarkan kegigihan, keberanian, kesabaran, ketulusan,  dan juga kepahitan perjuangan manusia mengatasi dilema moral.  Setahap demi setahap pengarang mengajak pembaca  untuk merasakan perkembangan konflik dan tegangan dengan jalan keluar yang seringkali merupakan kejutan. Kejutan dapat berupa situasi  yang   lebih buruk atau sebaliknya..

Berbeda dengan setting dalam prosa fiksi, analisis setting dalam drama dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang tempat, waktu, dan suasana terjadinya peristiwa dalam naskah.  Hasil analisis setting menggambarkan pilihan tempat dan waktu yang secara dinamis menampung rangkaian peristiwa yang dialami tokoh.  Pilihan unsur artistik yang mendukung setting  baik yang bersifat visual maupun auditif  dapat menjadi simbol yang menjelaskan tema yang disampaikan melalui tokoh. Misalnya, layar panggung berwarna hitam dan suara angin dan halilintar  menjadi simbol kepedihan atau duka cita, sebaliknya warna kuning dan musik klasik dapat menjadi simbol dari kekuasaan dan keagungan.

Fungsi utama bahasa  yakni mengembangkan dialog tokoh. Tokoh-tokoh dalam naskah drama saling berinteraksi dengan media dialog. Pilihan kata, kalimat, ungkapan, simbol-simbol bahasa, dan gaya bicara tokoh menggambarkan latar belakang sosio-kultural tokoh.  Bahasa menandai ciri kepribadian tokoh. Tokoh-tokoh dengan pemahaman dan penghayatan nilai moral yang tinggi cenderung memilih kata-kata yang berkonotasi positif,  kalimat bermakna, dan sopan.  Sebaliknya, tokoh yang mengabaikan nilai moral memanfaatkan bahasa sebagai alat untuk mewujudkan keinginannya meskipun dengan merugikan pihak lain.

Di antara dialog yang diucapkan para tokoh, terdapat dilaog tematis. Dialog tematis adalah dialog yang mengandung pesan pengarang. Dialog tematis diucapkan tokoh protagonis pada beberapa bagian plot, dan banyak ditemukan pada tahapan plot komplikasi hingga klimaks.  Tema naskah dapat disimpulkan berdasarkan deskripsi dan identifikasi dialog tematis.

Strategi pelatihan penulisan naskah drama dapat dikembangkan seperti pelatihan penulisan fiksi, yakni copy master,  modifikasi, dan kreasi.

 

Latihan 4.3

Tulislah sebuah naskah drama satu babak dengan langkah-langkah berikut!

  1. Pilih dan bacalah sebuah cerita rakyat dari tempat asal Anda!
  2. Pilihlah bagian cerita dikembangkan dengan konflik yang menarik dalam cerita rakyat tersebut!
  3. Tentukan sebuah setting, rangkaian peristiwa, tokoh-tokoh yang terlibat dalam bagian cerita tersebut!
  4. Tulis naskah drama dengan rangkaian peristiwa yang dikisahkan dalam dalam bentuk dialog.
  5. Tukarkan pekerjaan Anda dengan salah seorang teman, lakukan koreksi silang dan kemukakan saran-saran
  6. Revisi naskah drama Anda berdasarkan saran yang Anda terima!
  7. Pilihlah beberapa naskah untuk dibacakan!

No comments yet»

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: